Ukir Sukses Desainer Lebanon

SINDO, Jurnalis · Senin 18 Juli 2011 09:16 WIB
https: img.okezone.com content 2011 07 18 29 480934 GnBOpPc97y.jpg Koleksi Elie Saab (Foto: Google)

DESAINER Lebanon mengukir sukses di industri adibusana internasional. Resepnya? Membungkus glamorama dengan harga terjangkau.

Saat dunia mode terpukul krisis, banyak pelaku mode Eropa dan Amerika yang memilih stagnan untuk mempertahankan bisnis. Namun, hal tersebut ternyata tidak berlaku bagi pelaku mode Lebanon.

Saat resesi global melanda, desainer Lebanon masih terus bisa mengumpulkan pundipundi dari konsumen Timur Tengah yang berlimpah kekayaan yang tertarik untuk memiliki koleksi haute couture besutan mereka. Kini, saat industri couture kembali menggeliat, senyum para desainer Lebanon pun semakin berkembang.

Apa yang membuat koleksi haute couture desainer Lebanon lebih disukai konsumen dari negaranegara Arab dan Timur Tengah dibanding koleksi pelaku mode Eropa dan Amerika? Elie Saab, desainer Lebanon yang meraih sukses di Paris, mengatakan bahwa desainer Lebanon menawarkan apa yang diinginkan konsumen Timur Tengah.

“Kami memberikan apa yang mereka inginkan, glamorama dalam harga terjangkau,” ujar Saab, yang koleksinya kerap menjadi pilihan selebriti Hollywood.

Selain itu, desainer Lebanon juga telah terbiasa menghadirkan blink dalam koleksi mereka yang terpengaruh kebiasaan berbusana para wanita Beirut.

“Di Beirut, tidak akan terlihat jins dan kaus, para wanita Lebanon gemar tampil glamor dan kami terbiasa dengan itu,” papar Saab, seperti dilansir Reuters.

Hal tersebut juga didukung dengan kenyataan bahwa konsumen Saab, juga desainer Lebanon lainnya, lebih memilih gaun malam glamor ketimbang koleksi ready-to-wear bergaya kasual.

Saab menyebutkan, koleksi siap pakainya di Amerika kurang mendapat respons positif dari konsumen, kontras dengan rangkaian busana haute couture-nya yang punya banyak penggemar.

“Berbeda dengan pelaku mode Eropa dan Amerika yang lebih sukses dengan koleksi ready-to-wear, kami para desainer Lebanon justru lebih bisa mereguk keuntungan lewat haute couture,” kata Saab.

Tidak hanya di pasar internasional, para desainer Lebanon bisa terhindar dari pukulan krisis karena pasar dalam negeri mendukung dengan menunjukkan tingkat penjualan memuaskan. Saab bahkan menyambut baik hal tersebut dengan menghadirkan catwalk show di Beirut untuk pertama kalinya sejak 18 tahun dan menampilkan koleksi musim gugur dan musim dingin 2011/2012 ke pada fashionista Beirut.

“Saya rasa hal utama yang menjadikan koleksi kami disukai adalah karena harganya yang terjangkau untuk ukuran haute couture. Jika dibandingkan dengan koleksi adibusana dari rumah mode Prancis, haute couture dari desainer Lebanon memiliki harga yang jauh lebih terjangkau,” papar Saab.

Pendapat Saabdiamini koleganya, Abed Mahfouz. Desainer yang pernah mendandani Beyonce dan Victoria Beckham tersebut mengatakan, saat krisis, dia memotong harga koleksinya hingga 50 persen.

“Banyak desainer yang tidak mau menurunkan harga karena mereka menganggap itu akan menjatuhkan image,” ujarnya.

Tapi dengan menurunkan harga koleksinya dari USD100.000 menjadi USD50.000, Mahfoudz justru mendapat banyak klien baru dari Mesir, Libya, Tunisia, dan Yaman, yang sebelumnya tidak terdapat dalam radar konsumen potensial.

“Yang saya temukan dari para konsumen baru ini, mereka menginginkan haute couture, tapi dengan harga ready-to-wear dan itulah yang saya lakukan,” pungkasnya.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini