Share

Jejak Perkampungan Muslim Suku Sasak di Bali

Rohmat, Jurnalis · Rabu 03 Agustus 2011 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2011 08 03 427 487469 FEjWVHogVC.jpg Kampung Islam Suku Sasak di Karangasem, Bali. (Foto: okezone)

KARANGASEM- Meski mayoritas penduduknya beragama Hindu, namun Islam juga berkembang secara damai di Pulau Bali. Jejak Islam tidak hanya dikenalkan para pedagang Arab dan Hindia, namun juga terlacak di Kabupaten Karangasem, tempat di mana suku Sasak asal Lombok Timur sudah tinggal selama ratusan tahun.

Di ujung Bali timur, terdapat beberapa perkampungan kecil yang didiami Suku Sasak seperti di Dusun Bukit Tabuan, Kecamatan Karangasem. Berada di kawasan sejuk yang dikelilingi bukit hijau, menjadikan kampung ini sebagai salah satu perkampungan Muslim yang cukup tua di kabupaten paling timur Bali.

”Menurut cerita leluhur kami, keturunan Suku Sasak sudah ada di sini sejak 200 tahun lalu,” kata Mahidin (30), tokoh warga setempat.

Dari pendataan terakhir, ada sekira 300 jiwa tinggal di daerah perbukitan ini. Rata-rata setiap keluarga memiliki empat anak. Diperkirakan generasi sekarang, merupakan keturunan Suku Sasak kesembilan. Banyak dari mereka yang mengubah nasib dengan merantau atau bertransmigrasi ke daerah lain seperti Sumatera dan Sulawesi.

Kini mereka yang tersisa di dusun itu, tetap hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Pasalnya, infrastruktur jalan maupun listrik belum sepenuhnya mendukung mobilitas warga.

Jalan-jalan masih berbatu dan rusak, bahkan kabarnya listrik baru mengalir pada 2010 atau sekira sembilan bulan lalu.

Sebagian besar mereka menggantungkan hidup sebagai petani, buruh, dan pedagang. Beruntung daerah ini memiliki kekayaan alam melimpah seperti hasil perkebunan, pertanian, dan peternakan yang sebagian besar untuk menyuplai kebutuhan warga kota Karangasam dan sekitarnya.

Karena tinggal sudah cukup lama di Pulau Seribu Pura ini, mereka tidak hanya menguasai bahasa Sasak namun juga fasih berbahasa Bali sehingga hal itu memudahkannya berinteraksi dan diterima dengan kelompok warga asli lainnya.

Dari penuturan para tokoh masyarakat dan agama setempat, konon lahan subur yang mereka diami merupakan pemberian Raja Karangasem yang memiliki hubungan erat dengan nenek moyang para perantau asal Sasak tersebut.

”Hubungan Islam dengan umat lain khususnya warga Hindu, sejak dulu tetap harmonis dan damai. Tidak pernah terjadi gejolak atau permasalahan yang besar. Kami bisa hidup rukun berdampingan,” katanya.

Mereka sadar meski sebagai pendatang namun tetap menjungjung tinggi menjaga daerahnya seperti tanah asal leluhurnya di Lombok.

”Kami ini sejak lahir dan besar di sini. Bahkan kami tidak tahu lagi di mana kerabat. Kami juga tidak lagi memiliki tanah di Lombok, karena memang seluruh leluhur kami tinggal di sini. Yang kami tahu bahwa leluhur kami berasal dari Sasak," paparnya.

Kesempurnaan keislaman mereka juga diperkaya dengan masuknya para pendakwah atau ulama termasuk Jamaah Tablig yang rutin mengajak masyarakat setempat untuk dakwah dan beribadah di masjid.

Kehidupan religiusitas sangat kental terasa di dusun ini. Setiap saat menjelang salat lima waktu, terdengar kumandang adzan dan warga berbondong-bondong menunaikan salat.

Diakui Mahidin, meski sebagai penduduk minoritas, namum mereka tetap bisa diterima dan diakui baik jajaran pemerintahan atau warga Hindu. Warga Sasak tetap terbuka dengan siapa saja yang datang, semua warga Sasak pemeluk Islam sejak turun temurun.

”Namun kami juga punya tradisi keislaman yang tetap terpelihara hingga sekarang seperti saat hari-hari besar hingga Ramadan,” imbuhnya.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini