Share

Suku Sasak Sempurnakan Keislaman di Bali

Rohmat, Jurnalis · Jum'at 05 Agustus 2011 14:02 WIB
https: img.okezone.com content 2011 08 05 427 488561 rkWMzuM8pi.jpg Aktivitas Suku Sasak di Bali. (Foto: okezone)

KARANGASEM- Meski mengaku telah memeluk Islam sejak ratusan tahun lalu, namun warga Suku Sasak asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, justru baru menyempurnakan keislaman mereka setelah tinggal di Bali, pulau yang dihuni mayoritas agama Hindu.

Rupanya, warga Dusun Bukit Tabuhan, Kabupaten Karangasem, sebelumnya memahami ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW belum sepenuhnya tuntas, terutama terkait salat lima waktu.

Hidayah akhirnya datang setelah para ulama berdakwah ke daerah perbukitan itu. Sehingga mereka bisa menjalankan syariat Islam layaknya umat Muslim lainnya.

Meski hanya dihuni sekira 300 jiwa, namun suasana keislaman cukup kental terlihat di kampung Islam yang berada sekira 13 kilometer dari ibu kota Kabupaten Karangasem itu.

Hasan Basri (35), salah seorang guru ngaji di Dusun Bukit Batuan, Kecamatan Karangasem, menuturkan sejak hijrah ke Pulau Dewata mereka bertahun-tahun berusaha melakukan adaptasi dengan lingkungan sehingga bisa diterima masyarakat sekitar.

Demikian pula, warga keturunan Suku Sasak perlahan mulai menerima pengaruh budaya dan nilai-nilai dari luar, termasuk menyangkut pemahaman keislaman. “Kami selama ini menjalankan keagamaan secara turun menurun dari para leluhur,” tutur Hasan ditemui belum lama ini.

Dia mengisahkan, sebagai pemeluk Islam warga Suku Sasak tentunya juga menjalankan ibadah atau perintah Alllah seperti salat. Hanya saja, pemahaman keislaman masih dipengaruhi warisan leluhur seperti hanya menjalankan ibadah salat tiga kali dalam sehari.

”Ya kami sebelumnya melaksanakan salat pada tiga waktu seperti pagi, siang, dan sore," beber ayah empat anak itu.

Kedatangan Islam di daerah sejuk berdataran tinggi yang diapit dua bukit hijau itu, dikenalkan oleh tokoh Suku Sasak yang cukup terkenal yakni Raden Datuk Maspakel. Meski dengan segala keterbatasan yang ada, Islam mampu bertahan di daerah ini.

Sampai kemudian sekira 1960-an datang seorang ulama besar Datuk Guru Usman, yang akhirnya menyempurnakan keislaman mereka. Kini warga Muslim yang merupakan keturunan kesembilan Suku Sasak ini, telah menjalankan ibadah sesuai syariat Islam, termasuk salat lima waktu.

Di Masjid Alhidayah, kegiatan keagamaan kampung Muslim ini dipusatkan sehingga keberadaannya semakin dikenal. Sebagai kampung yang relatif masih sederhana dalam pemahaman keagaman, sehingga banyak didatangi para pendakwah baik para ustaz dari luar daerah hingga para anggota Jemaah Tablig.

Warga setempat selalu memperingati dan mengisi hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW hingga Ramadan, dengan suka cita.

Warga menggelar serangkaian kegiatan untuk seperti lomba-lomba, kebersihan hingga pengajian yang mendatangkan para penceramah agama untuk semakin mencerahkan keislaman mereka.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini