ODHA Boleh Tetap Berpuasa

SINDO, Jurnalis · Kamis 18 Agustus 2011 09:38 WIB
https: img.okezone.com content 2011 08 18 195 493266 ERhMXWp07c.jpg ODHA boleh tetap berpuasa. (Foto: Getty Images)

PENDERITA HIV/AIDS tetap disarankan untuk berpuasa. Asalkan, waktu makan obat antiretroviral diatur sedemikian rupa dan jangan lupa mengonsumsi makanan bergizi.

Setiap 12 jam, umumnya orang dengan HIV/AIDS (ODHA) diwajibkan meminum obat antiretroviral (ARV) dan methadone untuk menahan laju perkembangan HIV (virus penyebab AIDS). Aturan minum obat ARV ini sangat ketat karena terkait langsung dengan tingkat perkembangan HIV di dalam darah.

Jika waktu aturan minum diubah, maka akan membuat konsentrasi obat di dalam darah menurun. Kondisi inilah yang memberi peluang bagi HIV untuk memperbanyak diri di dalam darah. Pada tahap berikutnya, perubahan jadwal meminum ARV akan membuat HIV resistan atau kebal terhadap ARV.

Sementara itu, rentang waktu umat Islam berpuasa pada bulan Ramadan rata-rata mencapai 13 sampai 14 jam setiap harinya. Dengan kondisi ini, mungkinkah ODHA muslim menjalankan puasanya? Spesialis Gizi Klinis dari Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Cawang, Jakarta, Dr Paul F Matulessy MN PGK DSpG menerangkan, ODHA bisa berpuasa selama kondisi fisiknya baik dan tidak sakit.

Selama ini, menurut dia, tidak ada hal yang menjadi halangan saat ODHA berpuasa. Cara berpuasa yang tepat justru akan menyehatkan bagi ODHA.

”Yang terpenting adalah memiliki kemauan yang kuat untuk puasa karena dalam agama wajib hukumnya berpuasa. Kecuali kondisi kesehatannya tidak memungkinkan, dan ini kan sama saja dengan yang bukan ODHA, tapi dalam keadaan sakit,” katanya saat acara buka bersama dan diskusi dengan tema ODHA Berpuasa, Mengapa Tidak? oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta di Jakarta, Jumat (12/8).

Selain menyehatkan, dengan berpuasa, para ODHA dan ODHA pengguna napza suntik (penasun) juga dilatih untuk disiplin dan patuh dengan jadwal minum ARV. Terkait dengan waktu mengonsumsi obat, Paul menyarankan untuk mengubah waktu minum ARV dan methadone disesuaikan dengan waktu makan bulan puasa, yaitu mulai dari waktu berbuka hingga makan sahur dan sebelum Imsak.

”Memang perlu waktu adaptasi kira-kira satu hingga dua minggu untuk minum obat dengan cara diundur atau dimajukan sampai waktu sahur atau buka puasa,” terangnya.

Adaptasi lain adalah, lanjut dia, jumlah obat disesuaikan dengan kebutuhan ODHA dan jenisnya harus sesuai dengan kualitas makanan bergizi yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serta air.

Singkatnya, harus dipenuhi 3J yaitu jadwal, jenis,dan jumlah yang tepat.Untuk aktivitas di bulan puasa yang sebaiknya dijalankan bagi ODHA, sebenarnya tidak berbeda dengan orang biasa. Hanya saja, diubah waktunya menyesuaikan dengan ibadah puasanya,yaitu frekuensi dan kualitasnya lebih dilakukan pada malam hari.

”Sementara pada siang hari aktivitasnya dibatasi sesuai dengan kemampuan masingmasing ODHA,”kata Paul. Sementara itu, Sekretaris KPAP DKI Jakarta Rohana Manggala mengemukakan, ODHA boleh saja berpuasa, namun dengan catatan harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter.

Pasalnya, kondisi tubuh adalah faktor penentu apakah seorang ODHA mampu berpuasa atau tidak. Selain itu, kewajiban untuk meminum ARV juga menjadi pertimbangan utama. Menurut dia, seorang ODHA dianjurkan untuk mengonsumsi ARV jika CD4-nya di bawah 350.Sel CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit.

Sel tersebut adalah bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Dari aspek medis, tidak ada batasan CD4 yang bisa dijadikan patokan apakah seorang boleh berpuasa atau tidak. Patokan yang bisa dipakai, yakni dosis ARV yang harus diminum setiap hari.

Jika dosis konsumsi ARV antara 3 hingga 12 jam setiap hari, maka tidak ada kemampuan bagi ODHA untuk berpuasa lantaran puasa berlangsung lebih dari 13 jam setiap hari. Dan jika kondisinya sudah sangat rentan dan tidak memungkinkan, kata Rohana, aturan dan syarat puasa dapat dilakukan dengan membayar fidyah atau memberi makanan bagi fakir miskin.

”Keputusan untuk berpuasa atau tidak, memang ada di tangan ODHA yang sudah meminum obat ARV. Namun, tetap harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan selama berpuasa karena kelangkaan obat ARV di dalam darah akan memberi peluang besar bagi HIV untuk berkembang biak. Dan jika hal itu terjadi, pada waktu yang bersamaan terjadi pula kerusakan sel-sel darah putih sehingga menurunkan sistem pertahanan atau kekebalan tubuh,” ujarnya.

Ketua Yayasan Srikandi Sejati, yayasan yang melakukan pendampingan pada kelompok waria terkait pengembangan diri dan kesehatan, Lenny Sugiharto menceritakan, dirinya sudah menjalankan puasa sejak 2002.

Dia mengaku sejauh ini belum pernah mengalami masalah yang tergolong berat, terkait dirinya sebagai ODHA saat menjalankan ibadah puasa.

(nsa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini