IFW 2012 Fokus Ready to Wear

Koran SI, Jurnalis · Sabtu 20 Agustus 2011 11:40 WIB
https: img.okezone.com content 2011 08 20 29 494194 3oqUkkDI24.jpg IFW 2012 (Foto: Runi/okezone)

INDONESIA Fashion Week (IFW) 2012 menjadi langkah awal pengembangan industri busana siap pakai yang jauh lebih modern, dinamis, dan punya sentuhan rasa internasional.

Sepuluh tahun lalu, industri fashion di Indonesia bukan apa-apa. Tidak mengalami kemunduran maupun kemajuan, cenderung jalan di tempat. Jangankan ramai dengan acara pergelaran busana, untuk sekadar mengenalkan koleksi busana terbaru pun para desainer hanya melakukannya pada kalangan terbatas. Seolah pergelaran busana atau koleksi busana indah itu hanya milik mereka yang berkantong tebal.

Sampai suatu ketika, sebuah pengembang properti menggagas ajang Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF). Inilah titik balik kebangkitan industri fashion Indonesia dengan pergelaran busana bisa dinikmati juga oleh masyarakat awam.

Tak hanya dinikmati, mereka juga mulai melirik busana rancangan desainer sebagai trendsetter. Keberhasilan menarik perhatian masyarakat ini tak lepas dari usaha para desainer yang mulai menciptakan koleksi lini sekunder alias busana siap pakai.

Dari sini bisa terlihat ada perubahan konsep yang cukup signifikan, dari yang tadinya selalu membuat koleksi adibusana bergeser menyasar segmen yang lebih luas, yakni pasar ritel. Sejak saat itu industri fashion semakin menggeliat. Terjadi perubahan mindset masyarakat yang menganggap baju desainer itu cuma milik selebriti semata.

Ya, baju desainer ternyata juga bisa dipakai masyarakat dengan harga yang masih lebih murah dibandingkan busana keluaran brand luar negeri. Selanjutnya, mulailah dunia mode Tanah Air diramaikan dengan berbagai ajang pergelaran busana yang variatif. Entah itu show tunggal yang dibuat masing-masing desainer atau pekan mode yang melibatkan banyak desainer, seperti Jakarta Fashion Week, dan yang terbaru, Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF).

Kemajuan tersebut bertambah pesat lagi dengan diresmikannya Indonesia Fashion Week 2012. Dengan menggandeng seluruh desainer di Indonesia, yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) atau bukan, ajang ini menonjolkan ragam konten lokal sebagai kekuatannya. Selain ingin membawa fashion Indonesia ke dunia internasional, IFWjuga berkomitmen untuk mengembangkan industri busana siap pakai yang punya cita rasa global.

“Segmen pasar ready to wear memang sangat potensial sehingga kami juga termotivasi untuk membuat industri ini semakin bergairah pada masa mendatang,” kata Ketua Umum Pusat APPMI Taruna K Kusmayadi.

Pendapat serupa juga diungkapkan desainer kawakan, Musa Widyatmodjo. Menurut dia, perkembangan industri busana siap pakai dipengaruhi kebutuhan masyarakat akan pakaian yang mudah diaplikasikan dan fashionable secara tampilan. Melihat peluang itu, Musa sudah memiliki label M by Musa untuk koleksi busana siap pakai, juga dengan mengangkat konten lokal Nusantara, terutama kain lurik Jawa. Melalui lini sekundernya itu, Musa dapat menjangkau segmen pasar yang lebih besar, tidak hanya kalangan terbatas pencinta adibusana.

Anne Avantie juga mulai meraba pasar ritel dalam rancangannya. Bukan bosan dengan garis rancang kebaya, tapi Anne hanya ingin mengeksplorasi potensi pasar yang sedang berkembang. “Industri ready to wear punya potensi yang luar biasa besar, apalagi jika dikelola dengan sistem yang baik. Sebagai desainer, tidak menutup kemungkinan saya akan coba melirik lini tersebut dengan tidak meninggalkan ciri khas Anne Avantie,” katanya.

Adapun Lenny Agustin sudah lebih dulu merambah busana siap pakai di bawah label LENNOR by Lenny Agustin. LENNOR terkenal dengan ciri etnik kontemporer yang selalu melibatkan ragam budaya Nusantara dalam setiap koleksinya. Dalam menciptakan koleksi busana siap pakai, ada kalanya seorang desainer harus menyampingkan ego pribadi, terutama bagi mereka yang terbiasa bermain pada rancangan adibusana.

’’IFW adalah industri ready to wear, lebih pada kompromi bisnis. Untuk itu, APPMI melakukan roadshow keliling daerah, sejak lima tahun lalu sudah keras kepada anggota untuk memikirkan industri yang lebih besar. Karenanya, rancangan kami harus mendekatkan diri dengan para konsumen,” sebut Musa yang aktif dalam kepengurusan APPMI.

Proses mengembangkan industri ready to wear tidak serta-merta berjalan mulus. Ada cukup banyak kendala yang dihadapi, di antaranya keterbatasan stok bahan, proses produksi yang belum terkoordinasi dengan baik, minimnya edukasi tentang industri fashion Indonesia, dan strategi bisnis yang belum dikelola secara profesional.

“Menjadi perancang busana di Indonesia itu mudah, tapi coba hitung berapa desainer yang bisa menjalankan bisnisnya? Masih belum banyak. Untuk bisa memajukan industri ready to wear, harus diupayakan secara kolektif melibatkan banyak pihak,” kata pemilik label Musa Widyatmodjo ini.

Dukungan pemerintah mungkin bisa jadi jawaban dari berbagai kendala yang dihadapi pelaku industri  fashion saat ini. Dukungan itu perlahan juga sudah diwujudkan secara nyata dengan memaksimalkan potensi lokal yang tersebar di seluruh Indonesia. IFW hadir mengakomodasi semua keberagaman yang ada.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini