Share

Jejak Awal Kejayaan Islam di Palembang

Deddy Pranata, Jurnalis · Senin 22 Agustus 2011 09:25 WIB
https: img.okezone.com content 2011 08 22 427 494642 m5DVobdZlk.jpg Makam Ki Gede Ing Suro. (Foto: okezone)

PALEMBANG- Kompleks pemakaman kuno ini sekarang menjadi bagian dari jalur hijau (green barrier) PT Pusri. Di kompleks pemakaman yang masuk dalam wilayah administratif Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan IT II Palembang, ini terdapat delapan bangunan dengan jumlah makam keseluruhan 38 buah.

 

Salah satu tokoh yang dimakamkan di kompleks pemakaman yang dibangun sekira pertengahan abad XVI ini adalah Ki Gede Ing Suro. Dialah pendiri kerajaan Islam Palembang yang kemudian menjadi Kesultanan Palembang Darussalam.

Ki Gede Ing Suro adalah putra Ki Gede Ing Lautan, salah seorang dari 24 bangsawan asal Demak, Jawa Tengah, yang menyingkir ke Palembang, setelah terjadi kekacauan di kerajaan Islam terbesar di pulau Jawa itu.

Kekisruhan ini merupakan rangkaian panjang dari sejarah salah satu kerajaan Islam terbesar setelah masa Majapahit. Raden Fatah yang lahir di Palembang adalah putra Raja Majapahit terakhir yaitu Brawijaya V. Raden Fatah yang lahir dari Putri Cina yang disebut Putri Champa setelah istri Brawijaya itu dikirim ke Palembang dan diberikan kepada putra Brawijaya, Ariodamar atau Ario Abdillah atau Ario Dillah.

Setelah dewasa, Raden Fatah bersama Raden Kusen, putra Ario Dillah dengan putri China dikirim kembali ke Majapahit. Oleh Brawijaya V, Raden Fatah diperintahkan menetap di Demak atau Bintoro sedangkan adik lain bapak, Raden Kusen, diangkat sebagai Adipati di Terung.

Pada akhir abad XV, Islam di Pulau Jawa semakin kuat. Saat terjadi penyerbuan kerajaan Islam terhadap Majapahit, prajurit kerajaan Hindu itu kalah dan Raja Brawijaya V dan menyingkir hingga kemudian mangkat. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Majapahit.

Setelah keruntuhan Majapahit, Sunan Ngampel Denta (wali tertua dalam Wali Songo) menetapkan Raden Fatah sebagai Raja Jawa menggantikan ayahnya. Tentu saja, dengan pemerintahan Islam.

Raden Fatah, dibantu para wali, kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Surabaya ke Demak sekaligus menyebarkan Islam di daerah ini. Atas bantuan penguasa dan rakyat di daerah yang sudah lepas dari Majapahit, antara lain Tuban, Gresik, dan Jepara, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak pada 1481 M.

Dia menjadi raja pertama dengan gelar Jimbun Ngabdur Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata Agama.

Raden Fatah yang wafat pada 1518 M digantikan putranya, Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang wafat pada 1521 M. Pengganti Pati Unus adalah Pangeran Trenggono (wafat 1546 M).

Wafatnya Sultan ketiga Demak ini merupakan awal dari kisruh berkepanjangan di kerajaan Islam yang sempat memiliki pengaruh besar di Nusantara itu. Tahta kerajaan menjadi rebutan antara saudara Trenggono dengan putranya.

Saudaranya yang dikenal sebagai Pangeran Seda Ing Lepen dibunuh putra Trenggono, Pangeran Prawata. Prahara berlanjut dengan pembunuhan terhadap Prawata oleh Putra Seda Ing Lepen, Arya Penangsang atau Arya Jipang pada 1549 M.

Menantu Trenggono, Pangeran Kalinyamat juga dibunuh. Arya Penangsang akhirnya wafat dibunuh Adiwijaya. Menantu Trenggono yang terkenal sebagai Jaka Tingkir, Adipati penguasa Pajang ini kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Pajang.

Dengan demikian, berakhir pula kekuasaan Demak pada 1546 M setelah berjaya selama 65 tahun. Akibat kemelut itu, sebanyak 24 orang keturunan Sultan Trenggono (keturunan Raden Fatah) hijrah ke Palembang di bawah pimpinan Ki Gede Sido Ing Lautan. Setelah Ki Gede Sido Ing Lautan yang sempat berkuasa di Palembang wafat, digantikan putranya, Ki Gede Ing Suro. Karena raja ini tidak memiliki keturunan, dia digantikan saudaranya, Ki Gede Ing Suro Mudo.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini