Banyak Warga Kecewa Lawang Sewu Direnovasi

Aulia Akbar, Jurnalis · Kamis 13 Oktober 2011 16:02 WIB
https: img.okezone.com content 2011 10 13 407 514739 O0uHmH0PaJ.jpg Foto : Lawang Sewu (Aulia Akbar/okezone.com)

SEMARANG - Banyak warga setempat yang menolak akan adanya renovasi terhadap bangunan bersejarah Lawang Sewu, di Kota Semarang, Jawa Tengah. Mereka kecewa dengan perenovasian bangunan yang terkenal dengan horor tersebut.

"Banyak yang kecewa kalau Lawang Sewu itu direnovasi. Mereka yang kecewa mengatakan, keorisinalan Lawang Sewu akan hilang kalau bangunan ini direnovasi," ujar pemandu wisatawan di Lawang Sewu, Ari, kepada okezone, Kamis (13/10/2011).

Kekecewaan para masyarakat didasari karena mereka masih suka untuk melihat bangunan itu tampak tua seperti dahulu. Meski demikian, banyak juga warga yang setuju akan pemugaran dan perenovasian bangunan tua itu. Proses renovasi Lawang Sewu juga akan memakan waktu yang cukup lama dan belum dapat dipastikan akan selesai kapan.

Perenovasian Lawang Sewu juga ditujukan agar bangunan tua itu dapat dimanfaatkan sebagai sarana dan prasarana lainnya, terutama untuk kepentingan bisnis.

Pemanfaatan Lawang Sewu juga akan mengurangi wacana-wacana berbau mistis yang sering muncul dalam pembicaraan masyarakat tentang bangunan tua yang konon menjadi tempat jagal narapidana.

Lawang Sewu merupakan sebuah bangunan kuno peninggalan zaman belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag.

Bangunan yang terletak di bagian timur Tugu Muda Semarang ini dikabarkan sempat ditempati oleh Jepang pada masa penjajahan di Indonesia. Jepang pun menyulap Lawang Sewu menjadi sebuah tempat penyiksaan dan penjagalan para tahanan.

Bangunan ini dinamakan Lawang Sewu (Seribu Pintu) karena memiliki pintu yang cukup banyak, meski demikian pintu di bangunan tua itu tidak mencapai 1.000 buah. Bangunan ini juga memiliki jendela tinggi dan lebar, serta berjumlah banyak.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini