'JFW & IFW, Kenapa Tidak Bergabung?'

Fitri Yulianti, Jurnalis · Rabu 16 November 2011 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2011 11 16 29 530107 0LbuxK0ROM.jpg Koleksi Carmanita di JFW 2012 (Foto: JFW)

DUNIA fesyen Tanah Air semakin memercantik diri lewat keberagaman kreasi. Setelah ajang Jakarta Fashion Week (JFW) eksis selama empat tahun, kini akan ada Indonesia Fashion Week (IFW) untuk pertama kalinya.

Beberapa bulan lalu, IFW yang digagas Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) resmi diluncurkan Menteri Perindustrian MS Hidayat. IFW merupakan perhelatan fesyen akbar yang siap menjadi ikon di industri fesyen Indonesia untuk maju ke pentas global.

Rencananya, IFW 2012 yang pertama akan digelar 23-26 Februari 2012 di Jakarta Convention Center, Jakarta. Puluhan desainer dan label lokal baik dari asosiasi maupun independen ikut mendukung ajang IFW.

Presiden Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) Sjamsidar Isa mengungkapkan pendapatnya soal IFW 2012.

“Ajang begini di Jakarta sudah kebanyakan. Desainer bingung mau ikut yang mana. Di luar negeri, namanya fashion week ya cuma satu,” tuturnya ketika dihubungi okezone, baru-baru ini.

Sejauh ini, Indonesia memiliki sebuah pekan mode internasional bertajuk Jakarta Fashion Week yang merupakan besutan Femina Group. Dalam misinya, JFW ingin mengundang pembeli mancanegara (buyer) untuk bisa mengapresiasi desainer Tanah Air hingga akhirnya membeli karya mereka.

Antara JFW dan IFW, wanita yang akrab disapa Tjammy ini menyayangkan mengapa harus dibuat secara terpisah. “Kenapa enggak semua bergabung? Kan bingung, misalnya di JFW, Seba (desainer Sebastian Gunawan-red) ikut, habis itu ikut fashion week apa lagi, tapi bajunya diminta jangan sama. Ya, enggak bisa,” tukasnya.

Menurutnya, sebuah kreasi yang dihadirkan desainer merupakan pernyataan fesyennya, tidak bisa berubah hanya karena alasan ajang mode berbeda. “Namanya fashion statement, tren tahun mendatang, ya cuma ada satu statement, bahwa nanti dijabarkan menjadi second line atau third line, itu beda lagi,” tegasnya.

Tjammy menambahkan, akan sulit bagi desainer bila harus memilih. Akhirnya, para desainer IPMI, seperti berada dalam naungannya membagi tugas soal siapa berada di ajang mode mana.

“Soalnya susah, kalau enggak ikut, nanti diributkan, dibilang enggak mendukung. Perancang bingung mana yang mau diikutkan, akhirnya pilih enggak ikut. Kalau IPMI sendiri akhirnya dibagi-bagi. Kita semua coba berada di setiap ajang fesyen,” tutupnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini