nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bidan Tugasnya di Pelosok, Dokter di Kota?

Fitri Yulianti, Jurnalis · Rabu 21 Desember 2011 12:27 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2011 12 21 27 545275 CLxEwes65z.jpg Bidan pemenang Srikandi Award 2011 (Foto: dok. Alchemy)

KETERBATASAN tenaga dokter di daerah memaksa bidan untuk turut menangani permasalahan medis di sebuah lingkungan masyarakat. Benarkah anggapan yang menyatakan bahwa bidan tempatnya di desa sedangkan dokter di kota besar?

Bagi masyarakat Indonesia, peran penting bidan dalam edukasi masalah gizi dan kesehatan terutama pada ibu dan bayi sangatlah relevan. Faktanya, 60 persen kasus kelahiran masih ditangani oleh bidan, 35 persen oleh dukun beranak, dan sisanya oleh dokter.

Kebanyakan bidan ditugaskan di daerah pelosok hingga rasanya menjadi sebuah pemetaan oleh pemerintah bahwa dokter tempatnya di kota sedangkan bidan cukup di pelosok.

“Saya kira enggak karena bidan ada di manapun, jadi kita membuat jangkauan yang lebih luas. Masalahnya, jumlah dokter tidak mencukupi untuk seluruh Indonesia, tapi kalau nanti terjadi perubahan, tentu kita akan ubah (pemetaannya),” kata Prof Dr Nila Moeloek selaku Utusan Khusus Presiden RI untuk MDG's kepada okezone usai penganugerahan Srikandi Award 2011, di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (20/12/2011) malam.

Keberadaan bidan awalnya sebagai solusi bagi penanganan kesehatan lebih baik kepada ibu dan bayi, ketimbang bersama dukun beranak. Belakangan, jumlah dukun beranak memang jauh berkurang, tapi seperti diakui Prof Nila, penyebaran dokter masih belum terlalu baik.

Keterbatasan jumlah dokter di daerah pelosok diamini oleh pengamat kesehatan masyarakat sekaligus mantan Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Kartono Mohamad.

"Proporsi penempatan dokter tidak ada aturan yang jelas. Calon dokter hanya wajib PTT (Praktek Tidak Tetap-red), setelah itu, balik lagi ke kota dan enggak bisa dikontrol. Kalau merasa diperlakukan kurang nyaman oleh pemerintah daerah, dia lari. Karena yang gaji bukan pemda, makanya tidak ada ikatan," tukasnya ditemui di kesempatan terpisah.

Terlepas dari keterbatasan dokter, Prof Nila mengakui keberhasilan upaya bidan dalam menyukseskan Sasaran Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals/MDG’s), terutama dalam poin mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Juga, tambahnya, keberhasilan dalam meraih tempat di hati masyarakat lantaran bidan tak hanya fokus menyentuh permasalahan ibu dan bayi, juga isu sosial di sekitar wilayahnya bertugas.

“Kita menargetkan angka kematian ibu dari 228 orang per 100 ribu kelahiran menjadi 102 orang per 100 ribu kelahiran. Pekerjaan berat jika hanya kami sebagai dokter yang melakukan. Kita menyadari bahwa Indonesia secara geografis juga kurang menguntungkan,” tutupnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini