nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bidan Meiriyastuti Penyelamat Ibu & Bayi di Teriti

Fitri Yulianti, Jurnalis · Kamis 22 Desember 2011 13:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2011 12 22 27 545871 EgJnTQXVGI.jpg Bidan Meiriyastuti (Foto: dok. Alchemy)

BIDAN dengan segala potensinya diharapkan mampu menjawab tantangan budaya yang ditemui di wilayah tugasnya, terutama budaya yang merugikan ibu dan bayi. Salah satunya dilakukan Bidan Meiriyastuti.

Meiriyastuti adalah salah seorang bidan yang mendedikasikan dirinya untuk perbaikan status kesehatan ibu dan anak di Desa Teriti, tepian Sungai Batanghari. Teriti merupakan sebuah desa terpencil berpenduduk sekira 932 jiwa yang sebagian besar bermata pencaharian petani. Desa ini dapat ditempuh selama enam jam perjalanan dari dari Kota Jambi melalui Sungai Batanghari.

Bidan Meiriyastuti bertugas di Desa Teriti sejak 2001 hingga sekarang. Di awal pengabdiannya, ia merasakan kesulitan untuk dapat diterima oleh adat masyarakat. Terkait masalah kesehatan, misalnya, banyak orang tidak mau menuruti anjurannya karena lebih percaya kepada dukun.

Begitu pula untuk urusan persalinan, hampir semua masyarakat di Desa Teriti memercayakan penanganan kelahiran pada nyai dukun dengan penanganan spartus yang salah dan ritual adat yang merugikan kesehatan.

Dalam menangani persalinan, dukun beranak biasanya memotong tali pusat bayi menggunakan sebilah bambu dengan alas kunyit dan uang logam. Hal ini dapat mengakibatkan penyakit tetanus neonatorum pada bayi yang ditandai timbulnya kekakuan di seluruh tubuh, kesulitan membuka mulut, disusul kejang-kejang.

Tujuh hari pascapersalinan, dukun akan mengadakan ritual Nyebur ke Ayek. Prosesinya dilakukan dengan memandikan bayi menggunakan air kembang di Sungai Batangnari. Menurut adat, hal ini dilakukan guna memperkenalkan anak ke dunia luar tempatnya hidup kelak.

Dari kacamata kesehatan, hal ini membahayakan keselamatan bayi. Pernah suatu ketika seorang bayi prematur meninggal saat Nyebur ke Ayek akibat hipotermia.

Selain, itu, selama 40 hari masa nifas, ibu di Teriti hanya boleh mengonsumsi nasi putih dan kecap asin. Menurut dukun, bayi akan sakit lewat ASI yang diberikan ibu bila mengonsumsi sayuran dan ikan. Kebiasaan ini mengakibatkan kurangnya asupan nutrisi bagi ibu dan bayi.

Bidan Meiriyastuti kemudian tergerak untuk melakukan perubahan di desanya dengan melakukan berbagai pendekatan. Ia mencari keluarga angkat, mendekati perangkat desa, membentuk kader-kader terpercaya, serta merangkul para dukun.

Setelah 11 tahun melakukan pendekatan, kini para dukun mau bermitra dengan bidan untuk membantu persalinan. Ritual Nyebur ke Ayek telah dimodifikasi dengan menggunakan air hangat di dalam baskom. Sementara, pantangan makan sayuran dan ikan perlahan mulai ditinggalkan masyarakat Teriti.

Berkat perjuangannya, Bidan Meiriyastuti dianugerahi Srikandi Award 2011 sebagai pemenang dalam kategori Tantangan Budaya. Malam penganugerahan ajang tahunan besutan Sari Husada dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ini telah dihelat beberapa hari lalu.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini