Stres Pekerjaan Picu Pasangan Bercerai

K. Wahyu Utami, Jurnalis · Jum'at 02 Maret 2012 19:20 WIB
https: img.okezone.com content 2012 03 02 196 586258 uG9c4XLWtj.jpg Pasutri sedang bertengkar (Foto: Corbis)

PENGARUH stres ternyata tak hanya berdampak buruk bagi kesehatan, tapi juga hubungan rumah tangga. Untuk itu, pandailah mengelola beban pekerjaan dengan kewajiban rumah tangga.
 

Stres akibat pekerjaan bisa menjadi pemicu terjadinya perselisihan dalam keluarga. Pernyataan ini nyatanya memang benar bagi pasangan yang kerap membawa masalah pekerjaan mereka ke dalam keluarga, Andakah salah satunya?

Studi yang dilakukan di University of Florida yang memfokuskan diri pada pemeriksaan peran dukungan dalam keluarga menemukan bahwa stres kerja yang menjadi bagian dari keseharian merupakan hal relevan yang terjadi pada kedua pasangan. Karenanya, jika Anda ingin hidup bersama pasangan dengan bahagia dan langgeng, berhentilah berargumen mengenai masalah kerjaan. Itu jika Anda tidak ingin hari-hari Anda menjadi lebih buruk, seperti yang dilansir Genius Beauty.

Setelah mewawancarai 400 pasangan menikah, penulis studi Wayne Hochwarter, sampai pada kesimpulan bahwa kurangnya dukungan dari pasangan dalam situasi stres adalah penyebab utama perceraian serta penyebab keruntuhan karier.

Pasangan yang melaporkan dukungan tingkat tinggi di rumah mengakui bahwa mereka tidak hanya merasa puas dengan pernikahan mereka, tetapi merasa lebih mudah untuk mentoleransi stres terhadap pekerjaan. Mereka juga mengatakan bahwa pada penghujung hari mereka jarang merasa lelah, mereka memiliki kekuatan dan keinginan untuk berkomunikasi dengan orang sekitar dan keluarga terdekat untuk menghabiskan waktu bersama.

Menurut Dr Hochwarter, hal yang paling penting bagi lingkungan sehat dalam keluarga adalah belajar bagaimana untuk tidak abstrak pada orang yang dicintainya dan mampu menjelaskan alasan mengapa suasana hati menjadi buruk tanpa mencoba untuk membandingkan kondisi stres Anda dengan kondisi istri atau suami.

 

Mencari tahu siapa yang "merasa buruk" menyebabkan kesalahpahaman, dendam, dan, sayangnya, sering berakhir dengan perceraian. Pada saat yang sama, pasangan, di mana pasangan saling mendukung dalam situasi stres, merasa bahwa masalah mereka hanya menyatukan dan memperkuat pernikahan mereka. (ind)

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini