GeneXpert Mampu Diagnosa TB dalam Dua Jam

Insaf Albert Tarigan, Jurnalis · Selasa 13 Maret 2012 17:30 WIB
https: img.okezone.com content 2012 03 13 482 592434 dC0h1SKLXO.jpg GeneXpert (Foto:Cepheid)

ADAKAH teknologi baru yang memungkinkan pemeriksaan terhadap tuberculosis (TB), termasuk yang telah resisten atau TB MDR, lebih cepat, akurat, dan berbiaya murah?
 

Sejak 2002 lalu, Cepheid, perusahaan yang berbasis di Sunnyvale, California, Amerika Serikat, sudah mengembangkan sebuah alat yang dinamai GeneXpert. Alat ini memungkinkan dokter mendiagnosa TB dalam waktu hanya kurang dari dua jam dengan akurasi tinggi, termasuk TB yang sudah resisisten terhadap Rifampisin, salah satu obat terkemuka yang digunakan untuk pengobatan tahap awal.

 

Proyek pengembangan alat ini didukung oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat usai peristiwa serangan teroris 11 September 2001 terhadap menara kembar World Trade Center. Ketika itu, muncul kekhawatiran di masyarakat Amerika karena banyak ancaman senjata biologi jenis spora anthrax yang dikirim melalui surat.

 

Belakangan, riset pengembangannya juga didukung oleh Yayasan Bill dan Melinda Gates dan sejumlah organisasi di Amerika Serikat. Sejak diciptakan, mesin ini sudah memeriksa jutaan spora anthrax dengan akurasi tinggi.

 

Cara kerja GeneXpert jauh lebih akurat daripada metode konvensional dengan memeriksa sputum di bawah mikroskop karena mesin langsung meneliti dan mengurai DNA bakteri. Saat ini, Cepheid sudah mengunggah profil dan penggunaan GeneXpert di situs Youtube.com agar bisa diakses oleh orang dari seluruh dunia.

 

Pada 2010, Peter M Small dan Madhukar Pai dalam editorial New England Journal of Medicine menulis harapan baru terhadap pemberantasan TB dengan ditemukannya GeneXpert. Mereka mengatakan, cara paling banyak digunakan untuk mendiagnosis TB selama kurun waktu 125 tahun belakangan adalah pemeriksaan sputum dengan mikroskop dan separuh dari seluruh kasus TB luput diamati dengan cara ini. Dengan kata lain, banyak dokter yang salah mendiagnosa karena menggunakan alat yang tidak tepat.

 

Melalui serangkaian uji coba oleh ahli, New England Journal of Medicine menyebutkan, GeneXpert telah memungkinkan seorang paramedis yang tidak terlatih mendiagnosa tuberculosis dan mendeteksi tuberculosis resisten terhadap Rifampisin dalam waktu sembilan puluh menit.

 

“Uji coba ini dan tes lain yang segera akan menyusul memiliki potensi untuk merevolusi diagnosa tuberculosis,” tulis mereka.

 

Bahkan, salah satu jurnal terbaik di dunia tersebut optimistis dengan diagnosa cepat dan pengobatan yang lebih terarah akan membuka kemungkinan untuk menghentikan penyebaran tuberculosis. Dalam serangkaian tes yang terkoordinasi di berbagai negara, para ahli mendapati bahwa GeneXpert MTB/RIF mampu mengidentifikasi 98 persen pasien yang terinfeksi TB termasuk yang luput saat diperiksa dengan pemeriksaan sputum dan 98 persen bakteri yang resisten terhadap Rifampisin. Jika metode pemeriksaan cepat ini diadopsi secara global akan mampu mencegah 15 juta kematian akibat TB pada 2050.

 

Dari beberapa sumber di internet yang diperoleh, masalah lain yang masih harus dijawab dalam penggunaan GeneXpert adalah biaya yang harus dikeluarkan pasien untuk menjalani tes. Selain juga harga alat ini sendiri yang mencapai USD25 atau Rp250 juta. Jika diadopsi secara global, Cepheid sebagai satu-satunya perusahan pembuat tentu juga akan menangguk untung luar biasa besar.

 

Dokter Arifin Nawas dari Rumah Sakit Persahabatan mengatakan, GeneXpert sudah ada di Indonesia termasuk di Rumah Sakit Persahabatan, sejak November lalu. Alat ini, kata dia, juga ditempatkan di daerah-daerah dengan pasien HIV tinggi.

 

“Kita ketahui kalau ada pasien HIV itu dahaknya sulit kita menemukan kuman TB-nya kalau dengan mikroskop, selalu negatif. Sehingga diperlukan alat canggih ini. Saya dengar juga alat canggih ini juga akan ditempatkan di daerah-daerah yang angka HIV-nya tinggi, seperti kalau di Indonesia mungkin di Papua. Kemudian juga sekarang orang memikirkan di Lapas, di penjara karena di situ juga banyak penderita HIV,” katanya.

 

Menurut dokter Arifin, GeneXpert sudah mulai dioperasikan oleh Rumah Sakit Persahabatan, namun masih pada tingkat riset.

 

“Kita ingin bandingkan GeneXpert ini dengan diagnostik lainnya. Berapa sebenarnya angka sensitifitas dan spesifikasinya. Dia mungkin sangat sensitif, tapi tidak spesifik. Artinya, dia sensitif asal ada DNA kuman, dia memberikan hasil positif, tapi apakah dia spesifik. Itu yang sedang kita lihat. Tapi hasilnya GeneXpert ini sudah dipakai di Afrika, makanya WHO berani merekomendasikan salah satu alat untuk speed diagnostic adalah GeneXpert. Di sini sudah dalam operasional awal, istilahnya soft opening, percobaan untuk mencari pengalaman bagi operatornya,” jelasnya.

 

Belum jelas kapan Rumah Sakit Persahabatan akan meresmikan penggunaan alat ini secara luas. Saat ditanya, dokter Arifin tidak menyebut batas waktu, melainkan tenggat yang lebih abstrak.

 

“Kalau sudah pintar (menggunakan), kita resmikan GeneXpert di sini,” katanya seraya menambahkan GeneXpert bisa memperkecil peluang tenaga medis terpapar bakteri TB seperti pada pemeriksaan melalui mikroskop di laboratorium.

 

Saat digunakan secara resmi nanti, biaya yang harus dikeluarkan pasien untuk tes GeneXpert di Rumah Sakit Persahabatan diperkirakan antara Rp600 ribu hingga Rp700 ribu. Sebagai perbandingan, salah satu petugas laboratorium mikrobiologi di gedung Seruni rumah sakit tersebut mengungkapkan, biaya tes sputum tiga kali saat ini hanya seratus delapan puluh ribu rupiah.

 

Seperti kata dokter Arifin, penggunaan GeneXpert memang sudah didukung WHO sejak Desember 2010. Dalam laporan tahun 2011, WHO menyatakan sebanyak 26 dari 145 negara telah memenuhi syarat untuk membeli GeneXpert dengan harga kompromi, meski tak disebutkan berapa harga yang dimaksud. Sebagian besar pengguna alat ini adalah negara-negara Afrika. Per 30 Juni 2011 26 negara tersebut telah memesan 681 modul GeneXpert, dimana 361 di antaranya dipesan oleh Afrika Selatan. Adapun Indonesia, dalam laporan WHO, sebenarnya belum pernah memesan alat tersebut.

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, tujuh unit GeneXpert di Indonesia berasal dari hibah internasional yang diberikan melalui Koninklijke Nederlandse Centrale Vereniging (KNCV) Indonesia, satu lemba swadaya masyarakat internasional yang konsentrasi terhadap pemberantasan TB yang berpusat di Belanda. Dalam website resmi organisasi ini yang diakses 9 Maret lalu, tertera bahwa sebanyak tujuh unit GeneXpert dan 1.700 cartridges sebagai wadah pemeriksaan sampel dahak yang dihibahkan kepada Kementerian Kesehatan akan ditempatkan di laboratorium TB yang termasuk dalam Program PMDT (Programmatic Management of Drug resistant Tuberculosis) dan di daerah dengan kasus TB/HIV yang cukup tinggi.

 

Pada tahap awal, GeneXpert ditempatkan di enam laboratorium, yaitu Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, Rumah Sakit Umum Pengayoman Cipinang Jakarta, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Rumah Sakit Umum Daerah DR Moewardi Solo, dan Rumah Sakit DR Soetomo Surabaya.

 

Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kemeterian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dengan enam tempat tersebut, beserta penandatanganan dokumen berita acara serah terima barang dilakukan di Solo, Jawa Tengah, 24- 28 Januari 2012.

 

Penilaian terhadap kesiapan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan GeneXpert di Rumah Sakit Persahabatan dilakukan 9 Februari 2012. Sedangkan pelatihan penggunaannya dilakuan sepanjang akhir bulan Februari dan Maret 2012.

 

Sayangnya, hingga tulisan ini diterbitkan, permintaan wawancara terhadap perwakilan KNCV yang berkantor di Mega Kuningan, untuk mengetahui hasil evaluasi penggunaan GeneXpert, belum juga dibalas.

 

Jika mengikuti optimisme New England Journal of Medicine, GeneXpert akan berperan besar dalam menemukan kasus baru penderita TB termasuk TB MDR di Indonesia. Dengan demikian, pengobatan bisa dilakukan dengan lebih akurat, cepat, dan terpenting mencegah penderita menularkan penyakitnya ke lebih banyak orang.

 

Capaian akhirnya bukan semata-mata memenuhi target MDG’s atau membuat Indonesia mendapat angka bagus dalam laporan WHO mengenai pemberantasan TB. Tetapi lebih dari itu, menyelamatkan lebih banyak nyawa manusia. Sebab bagaimanapun juga angka-angka itu bukan sekadar benda mati, tapi mewakili individu.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini