nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketahui Gangguan Tidur dengan Sleep Study

Gustia Martha Putri, Jurnalis · Kamis 15 Maret 2012 19:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2012 03 15 482 594077 T2zY5MObFe.jpg Pasien lakukan sleep test (Foto: Gustia/Okezone)

MENDENGKUR atau mengorok bukan berarti tidur nyenyak. Mendengkur bisa jadi merupakan gejala penyakit Obstructive Sleep Apnea (OSA).
 

Untuk memastikan seseorang mengalami OSA atau tidak diperlukan sleep study di rumah sakit. Beberapa rumah sakit yang tersedia pelayanan sleep study adalah Rumah Sakit Medistra dan Rumah Sakit Mitra Kemayoran.

 

Sleep study atau sleep test adalah diagnosa untuk mengetahui gangguan-gangguan yang terjadi pada tidur seseorang. Beberapa gangguan tidur yang paling umum adalah insomnia, parasomnia (jalan selagi tidur, mimpi buruk, night eating), gangguan tidur rapid eye movement (REM), narkolepsi (ngantuk berlebihan), kurang tidur, dan OSA. 

 

"Ketika menjalani sleep test, pasien akan direkam dan diamati semalam penuh selama tidur. Yang direkam adalah gelombang otak, tegangan otot, gerakan bola mata, tegangan otot, suara dengkuran, posisi tidur, aliran udara nafas, pergerakan nafas, denyut jantung, kadar oksigen dalam darah, hingga gerakan kaki. Suster yang akan mengamati," tutur dokter spesialis syaraf Dr Rimawati Tedjakusuma SpS RPSGT dalam media edukasi berjudul "Bahaya Kematian di Balik Mendengkur", Rumah Sakit Medistra, Jakarta, Kamis (15/3/2012).

 

Pemeriksaan ini tidak bersifat infasif maupun menyakitkan, hanya ditempeli beberapa sensor yang terhubung dengan komputer, lalu tidur. Sleep study biasanya dilakukan di sleep laboratory atau sleep disorder clinic dengan menggunakan alat yang bernama polisomnografi (PSG).

 

Bagi Anda yang memiliki rekan diketahui mendengkur setiap tidur walau seharian tidak merasa lelah, atau ketika Anda mengalami gejala-gejala OSA seperti merasa lelah setiap bangun tidur, tidak segar, bangun tidur merasa capek, sakit kepala ketika bangun, mulut kering, siang hari merasakan kantuk terus-menerus, dan konsentrasi berkurang baiknya periksakan diri Anda ke dokter.

 

Pasalnya, ketika seseorang mengalami OSA dan tidak ditangani dapat memunculkan efek-efek negatif yang berbahaya. Pada diri sendiri, OSA merupakan faktor risiko bagi hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Bagi lingkungan sekitar pun membahayakan karena pasien yang mengalami OSA cenderung kehilangan konsentrasi yang dapat menyebabkan salah satunya kecelakaan ketika mengemudi.

(tty)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini