Share

Belajar Diving, Yuk!

Mutya Hanifah, Jurnalis · Senin 30 April 2012 18:30 WIB
https: img.okezone.com content 2012 04 30 407 621069 9fIzpHjP64.jpg Belajar dasar-dasar diving di kolam renang Villa Queen & Spa bersama Bee Diver (Foto: Mutya/okezone)

INDONESIA adalah negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari perairan dengan keindahan bawah laut yang mempesona. Sayang sekali bila tidak dapat menikmati keindahan tersebut secara langsung alias menyelam (diving).

Untuk menikmati alam bawah laut Indonesia yang luar biasa indah, tentu tidak cukup hanya dengan melihatnya di foto atau gambar. Anda harus menghampirinya langsung, dengan cara menyelaminya.

Sayang, menyelam di laut membutuhkan sertifikat atau kartu lisensi resmi yang menandakan Anda memiliki kualifikasi menyelam. Untuk mendapatkan lisensi ini cukup mahal, kira-kira Rp4 juta, ditambah dengan pelatihan diving di kolam renang beberapa kali hingga akhirnya Anda diperbolehkan menyelam di laut.

Beberapa waktu lalu, Okezone sempat mengikuti kursus diving singkat bersama para instruktur dari Bee Diver, Villa Queen & Spa Gili Trawangan, Lombok. Kami berlatih hal yang paling dasar dalam menyelam, yaitu pernapasan di kolam renang. Meski hanya berlatih pernapasan dan di kolam renang, pelatihan yang kami ikuti sudah menggunakan alat lengkap, seperti selang regulator, tabung oksigen, fin (kaki katak), dan masker renang.

Instruktur yang mendampingi segera memberi arahan singkat mengenai diving. Mereka membantu memasangkan alat diving di tubuh kami, dimulai dari sabuk hingga tabung oksigen, fin, masker, dan regulator. Saat berada di atas air, semua alat tersebut terasa cukup berat seperti memanggul ransel besar. Namun ketika kami memasuki air, bawaan tersebut menjadi ringan.

Instruktur kami, Donna, memberi tahu cara bernapas menggunakan regulator. Sebelumnya, dia mengingatkan kami untuk selalu menjauhkan rambut dari masker agar tidak ada air yang masuk. Setelah itu, dia memberi tahu soal bagaimana bernapas di dalam air dengan regulator, yaitu menarik napas dan menghembuskannya melalui mulut. Dia kemudian menyuruh kami memasukkan kepala ke dalam air dan mencoba bernapas di dalamnya. Setelah itu, Donna mengajarkan isyarat-isyarat penting ketika menyelam.

"Ketika berada di dalam air, tentu kita tidak bisa berbicara. Karena itu, sangat penting untuk mengetahui isyarat ketika menyelam," tuturnya.

Donna kemudian mencontohkan sinyal tangan menyatukan jari telunjuk dan jempol sebagai tanda "ok", lalu tanda jempol ke atas sebagai isyarat "naik" dan jempol ke bawah sebagai tanda "turun". Sementara bila ada masalah, goyangkan tangan dan menunjuk bagian mana yang mengalami masalah.

"Biasanya yang menjadi masalah bagi penyelam pemula adalah telinga atau hidung yang sakit. Semakin dalam Anda berada di dalam air, tekanan udara semakin tidak ada dan membuat telinga sakit," jelasnya. Apabila hal ini terjadi, Anda dapat mencubit hidung atau menelan ludah sebagai pertolongan pertama.

Saat kami mencoba menyelam, beban tabung oksigen semakin terasa ringan. Dengan kaki katak, mereka yang tidak bisa berenang pun tidak akan tenggelam saat diving. Namun, memang benar seperti dikatakan Donna, tidak beberapa lama berada dalam air, telinga mulai terasa sakit.

Donna menambahkan, sebaiknya setelah diving, Anda tidak melakukan penerbangan setidaknya hingga 12 jam. "Karena tubuh butuh waktu untuk menstabilkan tekanan udara, terutama di telinga dan hidung," katanya. Bahkan bila Anda usai menyelam di laut yang cukup dalam, setidaknya waktu yang dibutuhkan tubuh untuk stabil kembali adalah 24 jam.

Diving memang wisata yang cukup sulit dan mahal. Namun sekali mencobanya, Anda tidak akan menyesal bahkan merasa ketagihan untuk terus mencoba!

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini