Wah, Koteka Ternyata Diminati Kaum Hawa

Fitri Yulianti, Jurnalis · Rabu 04 Juli 2012 12:44 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 04 407 658610 uq2PudTDKE.jpg Suasana Jakarta Fair 2012 (Foto: Heru/Okezone)

INILAH beda Jakarta Fair dengan pusat-pusat perbelanjaan. Selain dijual aneka barang kebutuhan dengan harga promosi, di Jakarta Fair juga terdapat berbagai barang unik hasil kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya pakaian pria khas Propinsi Papua, yakni koteka.

Benda yang berfungsi sebagai penutup alat vital kaum pria dalam budaya warga asli Papua ini dipajang di Hal-C Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Koteka tersebut oleh penjualnya dibanderol dengan harga Rp100 ribuan.

Anehnya, benda yang terbuat dari labu air itu ternyata juga diminati oleh kaum hawa. Ibu-ibu dan para gadis yang melintas di depan stand itu tertarik dengan koteka. Tidak sedikit dari mereka sengaja berfoto sambil memajang koteka, dan tak sedikit pula yang malah membelinya.

Rafiudin Abduh, pemilik Koteka Art Shop, yang menjual barang itu mengatakan bahwa koteka Papua atau sering disebut salak wamena termasuk cukup laku. Para pengunjung umumnya membeli yang berukuran kecil.

“Malam Minggu kemarin ramai, mereka juga foto-foto di depan stand koteka ini,” tuturnya, dikutip dari keterangan Media Center Jakarta Fair yang diterima Okezone, Rabu (4/7/2012).

Koteka sendiri terbuat dari kulit  labu air. Isi dan biji labu tua dikeluarkan dan kulitnya dijemur. Secara harfiah, kata koteka bermakna "pakaian", berasal dari bahasa salah satu suku di Paniai. Sebagian suku pegunungan Jayawijaya menyebutnya holim atau horim.

Rafiudin memang memajang dan menjual aneka produk khas Papua, mulai dari gelang, kalung, hingga lukisan kayu. Harganyapun cukup terjangkau, mulai Rp15 ribu hingga Rp600 ribu. Kalung, misalnya, dibanderol Rp 25ribu dan Rp35 ribu. Topi burung kaswari Rp400 ribu, rok/sali Rp250 ribu, dan lukisan kayu orang Rp600 ribu. Untuk rok ada dua macam; satu terbuat dari ilalang dan satu dari kulit kayu. Rok ilalang dari suku Asmat dan kulit kayu dari Sentani.

Rafiudin, yang sudah turun temurun menjual kerajinan Papua, menjelaskan bahwa baru kali ini dia ikut pameran di Jakarta Fair. Dia memang menyayangkan Pemerintah Provinsi Papua yang tidak terlibat dalam event ini.

“Saya ke sini diajak Pertamina karena saya adalah mitra binaanya,” ujar Rafiudin yang masih berdarah bugis itu.

Padahal, lanjutnya, selama dua pekan ini respon pengunjung terhadap aneka kerajinan Papua cukup tinggi. “Sayang jika potensi ini tidak kita tangkap,” imbuhnya sambil melayani pembeli. Jakarta Fair berlangsung selama sepekan, dari 14 Juni sampai 15 Juli 2012.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini