Papirus dari Sungai Nil Ada di Kemayoran

Fitri Yulianti, Jurnalis · Rabu 04 Juli 2012 15:41 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 04 407 658722 WHPyLWfVlr.jpg Suasana Jakarta Fair 2012 (Foto: Heru/Okezone)

MARI bertamasya ke masa lalu, sebuah masa sebelum kertas ditemukan. Ketika manusia masih memanfaatkan dedaunan untuk media tulis menulis. Di Jakarta Fair 2012, terdapat sebuah stand yang memamerkan dan menjual papirus.

Konon, papirus telah dimanfaatkan berabad-abad lalu sebagai media untuk menulis, termasuk di antaranya dimanfaatkan di zaman Nabi Muhammad untuk menulis ayat-ayat suci Al Qur’an. Kini, papirus bisa di temukan Hall-C Arena Pekan Raya Jakarta (PRF) Kemayoran alias Jakarta Fair, yang berlangsung 14 Juni sampai 15 Juli 2012. Papirus, tepatnya dipajang di stand Sudin Koperasi UMKM Perdagangan Pemkot Jakarta Timur.

Amalia Shofa, yang menjajakan daun papirus, mengatakan bahwa meski zaman kini sudah ada kertas, bahkan media online juga sudah banyak, peminat papirus tidak pernah sepi. Dari pelaksanaan Jakarta Fair setiap tahun, dirinya berkesempatan mempromosikan papirus.

"Barangkali, stand ini saja yang berjualan papirus. Ada sisi edukasi, yaitu kami ingin mengajak masyarakat ke masa lalu, sejarah manusia mengawali tulis-menulis," tutur Amalia, dikutip dari keterangan Media Center Jakarta Fair yang diterima Okezone, Rabu (4/7/2012).

Secara berkala, Amalia meminta pasokan papirus langsung dari Mesir. Lukisan pada papirus dengan beragam ukuran itupun mengingatkan pada zaman Fir'aun. Juga, ada romansa Cleopatra. Harganya variatif dari Rp50 ribu hingga Rp1 juta.

Selain bergambar khas kerajaan Mesir Kuno, papirus yang ditawarkan juga bertuliskan kaligrafi (ayat-ayat Al Quran). Adapula Asmaul Husna (99 nama Allah).

Papirus adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno. Tanaman ini umumnya dijumpai di tepi dan lembah Sungai Nil. Kira-kira 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan papirus. Mereka, pada saat itu, membuat kertas dari kulit-kulit tipis atau kulit-kulit halus papirus, sebelum akhirnya kertas ditemukan.

Ketertarikan Amalia terhadap papirus sedikit banyak terkait dengan frekuensinya berkunjung ke Mesir. Tiga anaknya tinggal di sana. Setiap kali habis bepergian dari Negeri Piramid itu, ia membawa oleh-oleh papirus.

"Lama-kelamaan banyak yang menanyakan dimana bisa mendapatkan barang itu. Akhirnya saya berbisnis papirus," tutupnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini