nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masjid Rao Rao Jadi Basis Pendidikan & Melawan Penjajah

Rus Akbar, Jurnalis · Jum'at 10 Agustus 2012 10:07 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2012 08 10 427 675859 W3avR0PsuZ.jpg Masjid Rao Rao (Foto: Okezone/Rus Akbar)

BATUSANGKAR - Masjid Raya Rao Rao merupakan salah satu bangunan tertua di Indonesia. Masjid berarsitektur perpaduan antara budaya Persia dan Minangkabau itu memiliki nilai sejarah daerah Tanah Datar dan Sumatera Barat.

Dalam sejarahnya, Masjid Rao Rao dibangun pada 1908 di Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, di atas tanah wakaf Mohammad Thaib Caniago.

Bangunan yang tergolong mewah pada zamannya itu dibangun oleh masyarakat Nagari Rao Rao yang saat itu dipimpin Abdurrachman Datuk Majo Indo. Pembangunan masjid memakan waktu 10 tahun atau selesai pada 1918.

Awalnya, masjid yang berada di lereng Gunung Marapi itu beratap ijuk. Pada 1926 masjid mengalami kerusakan ringan akibat gempa. Pada 1975, masjid direnovasi kembali dengan meluruskan menara yang miring, disusul penggantian semua keramik pada 1990-an.

Banyak warga yang menyaksikan pembongkaran keramik itu menangis. Pasalnya, keramik yang dibongkar itu didatangkan dari China. Untuk membawanya pada zaman itu sangat susah.

Sebab nagari Rao Rao tidak terletak dekat dengan laut. Sementara saat itu belum ada mobil untuk mengangkut keramik dari Pelabuhan Teluk Bayur, sehingga warga menggunakan pedati.

Kuda menarik pedati sejauh lebih dari 100 kilometer dari pelabuhan ke daerah Tabek Patah.

Dari segi bangunannya, masjid ini memiliki atap empat tingkat. Ini sebagai simbol bahwa yang pembangunan dilakukan warga dari empat suku (clan), yakni Bodi Caniago, Bendang Mandahiling, Petapang Koto Anyear, dan Koto Piliang. Tonggak utama pintu utamanya terdiri dari empat bagian.

Di atas atap empat tingkat itu terdapat menara segi empat dan di sisinya terdapat kaligrafi. Sementara di bagian depan juga memiliki menara kubah, posisinya di atas serambi depan.

Memasuki ruangan, akan ditemui empat tonggak utama terbuat dari beton, mihrab (podium) berukuran 3x1,38 meter dengan tinggi 3,115 meter. Mihrab dibangun permanen pada 1930 dimana seluruh bagian mihrab tersebut dihiasi pecahan kaca keramik.

Selain sebagai tempat mengatur strategi menghadapi penjajah Belanda. Masjid Rao Rao juga berfungsi sebagai sentra pendidikan.

Di sisi kiri masjid terdapat sekolah Darul Huda (DH). Setelah tamat di sekolah DH, putra-putri dari Rao-Rao melanjutkan ke SMA atau madrasah aliyah. Selain ilmu umum, para remaja Rao Rao juga mengaji di surau-surau.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini