nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tekanan Lingkungan & Emosi Labil, Penyebab Tawuran Terjadi

K. Wahyu Utami, Jurnalis · Kamis 27 September 2012 20:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2012 09 27 196 696056 gSnRTFJr7q.jpg remaja dengan emosi yang labil (Foto: Corbis)

LAGI-LAGI, remaja sekarang seakan tidak dapat mengontrol emosi mereka dengan stabil hingga akhirnya semua itu dituangkan dalam aksi perkelahian atau tawuran. Tekanan dan emosi yang tidak stabil ditengarai menjadi pemicu tawuran.

 

Tawuran memang bukanlah hal yang baru lagi. Seperti sudah membudaya banyak siswa antar sekolah terlibat perkelahian. Perilaku ini tentunya memprihatinkan.

 

Menanggapi hal tersebut, Psikolog dan Dosen Muda Universitas Padjadjaran Bandung Fredrick Dermawan Purba mengatakan, lingkungan berperan penting atas terjadinya tawuran antar pelajar.

 

"Ini disebut faktor peer-pressure, di mana kecenderungan remaja ketika mereka mengadopsi atau mengikuti nilai-nilai atau perilaku dari orang lain karena merasa mendapatkan tekanan untuk melakukan itu agar mengikuti keinginan lingkungan. Baik tekanan itu mereka rasakan atau pikiran. Jadi, mereka terpaksa untuk mengikuti kesamaan di lingkungan mereka, walau sebenarnya tidak ingin memilih hal tersebut," tutur pria yang biasa disapa Bang Jeki ini saat dihubungi Okezone melalui BlackBerry Messenger, Kamis (27/9/2012).

 

Dikatakan Bang Jeki, tawuran itu sendiri sering kali dilakukan dengan alasan kesetiakawanan antar teman. Meskipun secara individu mungkin mereka tidak ingin melakukannya, namun lantaran adanya tekanan dan ancaman, terjadilah tawuran.

 

"Nilai doktrin yang dibangun dari dulu oleh pendahulu-pendahulu mereka yang membangun cerita, sehingga sebenarnya mereka sendiri tidak mengetahui dengan pasti kebenarannya," dia menambahkan.

 

Selain karena tekanan lingkungan sekitar, faktor emosi pada diri merekalah yang membuktikan bahwa keadaan emosi dari masa remaja itu disebut labil.

 

"Tawuran itu sendiri, bagi mereka juga dianggap sebuah pembuktian akan nilai kesetiakawanan ataupun pembuktian nilai harga diri mereka. Emosi mereka meledak dan tidak terkontrol oleh otak yang berlevel tinggi tadi," tutupnya.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini