nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kerbau Bule Ngadat, Kirab Pusaka Keraton Surakarta Molor

Bramantyo, Jurnalis · Kamis 15 November 2012 16:47 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2012 11 15 407 718861 QonEFsuEtz.jpg Kirab pusaka pada malam 1 suro (Foto: Bramantyo)

SOLO - Kirab pusaka Malam 1 Suro di Keraton Surakarta yang digelar untuk menyambut pergantian Tahun Baru 1434 Hijriah sempat molor 30 menit. Penyebabnya, kerbau bule yang akan dikirab berbalik arah dan menolak jalan.

Awalnya, kirab berjalan sesuai waktu yang telah ditetapkan pihak Keraton Kasunan Surakarta. Tepat pukul 00.00 WIB, sembilan kerbau yang dipercaya sebagai keturunan Kiai Slamet memimpin barisan kirab.

Di belakang barisan sembilan kerbau, ada barisan sekira 7.000 abdi dalem membawa benda-benda pusaka, seperti tombak. Namun, setiba di Bundaran Gladak, kerbau bule itu tiba-tiba berhenti dan tidak mau berjalan. Malah sebaliknya, sembilan ekor kerbau ini tanpa dikomando berbalik arah menuju ke dalam Keraton.

Sang pawang terus melakukan upaya agar kerbau pusaka milik Keraton tersebut mau jalan kembali. Bukannya menuruti sang pawang, kerbau-kerbau itu terus saja berjalan melawan barisan kirab.

Untuk menenangkan, panitia berulangkali meminta para pengunjung tidak menggunakan lampu kilat pada kameranya. Mereka menduga, kerbau bule itu stres lantaran melihat kilatan lampu-lampu kamera.

Semula, pihak Keraton memutuskan kirab berjalan tanpa keikutsertaan Kerbau Pusaka. Baru setelah jumlah pengunjung berkurang, selang 30 menit kemudian, sembilan kerbau tersebut kembali bersedia berjalan. Namun, kali ini kerbau pusaka tersebut berjalan di belakang barisan benda-benda pusaka Keraton lainnya.

Sebelum kirab pusaka, terlebih dulu dilaksanakan beberapa ritual. Di antaranya, pada pukul 20.30 WIB dilakukan wilujengan (selamatan), dukutan, dilanjutkan kol-kolan (peringatan) meninggalnya Raja Surakarta Paku Buwono X.

Sempat timbul kekhawatiran Kirab 1 Suro kali ini tidak diikuti Paku Buwono XIII karena perselisihan internal di dalam Keraton. Namun, kekhawatiran itu sirna. Raja Surakarta Paku Buwono XIII dan Kuasa Hukum Keraton Yusril Ihza Mahendra ikut dalam kirab yang dimulai dari Kori Kamandungan Keraton menuju Jalan Jendral Sudirman-Jalan Arifin-Jalan Kapten Mulyadi-Jalan Veteran-Jalan Yos Sudarso-Jalan Slamet Riyadi-kembali ke Keraton.

Yang menarik, sepanjang kirab sejauh 4,5 km itu, tak jarang kerbau Kyai Slamet membuang kotoran. Anehnya, kotoran tersebut justru menjadi rebutan warga. Sebagian warga masih meyakini bahwa kotoran kerbaau akan membawa berkah bagi dirinya dan keluarga.

"Senang bisa dapat kotoran Kyai Slamet, ini mau saya sebar di pekarangan biar tanahnya subur," ujar Kadir Gunadi, warga Sleman, Yogyakarta.

Sementara bagi Andi, warga Sragen, meski tak mendapat kotoran kerbau dia tetap yakin akan bernasib baik. "Saya senang, meski kerbaunya terlambat keluar. Saya yakin dengan melihat kerbau langsung, akan membawa berkah bagi keluarga saya," katanya.

Selain di Keraton Kasunanan Surakarta, peringatan pergantian Tahun Hijrah atau 1 Suro juga diperingati di Istana Mangkunegaran. Hanya saja, berbeda dengan peringatan 1 Suro yang digelar Keraton Kasunanan, di Istana Mangkunegaran peringatan hanya diwarnai kirab mengitari tembok luar istana. Kirab pusaka dilepas langsung oleh pemimpin Istana Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegoro IX.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini