Usung Ecotourism, Banyuwangi Stop Pendirian Diskotek

Nurul Arifin, Jurnalis · Selasa 04 Desember 2012 22:29 WIB
https: img.okezone.com content 2012 12 04 407 727366 MG9elVDg6p.jpg Kawah Ijen, Jawa Timur (Foto: infowisataku)

SURABAYA - Kabupaten Banyuwangi membangun imej sebagai ecotourism di Jawa Timur karena menjadi jenis pariwisata yang digemari wisman asal Eropa. Untuk mewujudkan hal itu, pemerintah setempat membuat regulasi bahwa di kabupaten paling timur provinsi Jawa Timur ini menyetop pembangunan diskotek serta rumah karaoke.

"Regulasinya sudah kami terbitkan, bahwa di Banyuwangi tidak ada pembangunan tempat hiburan malam baru dan mal. Kami sedang menjadi ecotourism. Tentunya, pariwisata yang disuguhkan di Banyuwangi berbeda dengan Surabaya dan Bali," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azawar Anas di konferensi pers Banyuwangi Tour de Ijen 2012 di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (4/12/2012).

Dia menjelaskan, saat ini memang ada pergeseran di dunia pariwisata. Wisatawan luar negeri, khususnya dari Eropa, lebih banyak menggemari ecotourism. Konsekuensinya, pariwisata jenis ini akan jauh dari hiruk-pikuk.

Menurutnya, Kabupaten Banyuwangi bermain di segmen tersendiri. Jika menggarap pangsa pasar yang ada, pasti sudah kalah dengan Surabaya dan Bali. Termasuk dengan Malang yang terkenal dengan wisata buatan, yakni Jatim Park.

Destinasi wisata di Banyuwangi untuk ecotourism sangan berpotensi. Pasalnya, kabupaten yang berjuluk Sun Rise East Java ini diapait oleh tiga taman nasional, yakni Alas Purwo, Taman Nasional Meru Betiri, dan Gunung Ijen.

"Tentunya, hal itu menjadi daya trik sendiri bagi pencinta ecotourism. Tren itu sangat tinggi, maka kami akan konsentrasi ke sini. Karena ecotourism, maka wisatanya tidak hiruk-pikuk," tandasnya.

Selain menyetop pendirian diskotek dan rumah hiburan malam, pihak Pemkab Banyuwangi juga melarang berdirinya hotel kelas melati di kawasan tersebut. "Kami juga melarang hotel kelas melati berdiri di Banyuwangi, minimal harus hotel bintang tiga. Kebijakan ini sudah konsisten sejak dua tahun silam," lugasnya.

Kebijakan-kebijakan itu, lanjut kader GP Ansor ini, bukan semata-mata persoalan agama melainkan untuk menjaga kearifan lokal di Kabupaten Banyuwangi. Menurutnya, hasil penelusuran Kominda Banyuwangi, beberapa tempat karaoke dan tempat hiburan masih menjadi pusat peredaran minuman keras dan narkoba. Tak hanya itu, trafficking juga banyak terjadi di tempat-tempat seperti itu.

"Solusinya, Pemkab menyediakan ruang tata hijau di pusat kota. Tempat ini kalau malam Minggu banyak dikunjungi oleh pemuda-pemudi kita," pungkasnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini