Idolaku Keren Banget!

Mom & Kiddie, Jurnalis · Selasa 11 Juni 2013 20:06 WIB
https: img.okezone.com content 2013 06 11 196 820497 GkmcX0B5CB.jpg Coboy Junior (Foto: Twitter)

ANAK-anak juga memiliki idolanya sendiri, tak terkecuali boyband ternama yang sedang digandrungi masyarakat luas.

Nayla: “Mamaku udah janji mau temani aku nonton film Coboy Junior di bioskop loh!”

Kirana: “Wah enak banget! Aku belum bilang sama Mamaku, aku mau nonton juga ah!

Saskia: “Ah Mama aku boro-boro! Kemarin aku beli poster Justin Bieber aja dimarahin!”

Ketiga siswi ini asyik membicarakan tokoh idola mereka. Pada tahapan usia anak sekolah dasar, mereka berada pada tahap perkembangan psikosial yang memiliki minat pada kehidupan praktis yang terjadi di kehidupan sehari-hari, memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, dan memiliki keinginan belajar yang tinggi. Keinginan untuk sama bahkan lebih dari teman sebaya lain, sudah muncul pada usia ini.

Sedangkan secara kognisi, anak SD berada pada tahap Operasional Konkret, mereka masih butuh objek-objek konkret atau nyata untuk digunakan dalam proses berpikir dan menyelesaikan masalah.

Jadi, idola sebenarnya memiliki beberapa fungsi yaitu menjadi role model, menjadi ajang untuk proses belajar, menjadi ajang untuk bersosialisasi dengan teman sebaya.

Sisi positif tokoh idola

Apa yang dimaksud dengan role model? Anak akan berusaha sama atau mirip dengan idolanya. Hal ini dapat menjadi positif karena anak akan banyak belajar dari idolanya. Sebagai orangtua, Moms dapat memanfaatkan kondisi ini untuk ‘memasukkan’ aturan serta nilai-niai yang baik dan penting untuk diketahui anak. Misal anak suka dengan boy band SMASH, Coboy Junior, dll. Tanyakan apa yang membuat anak suka, kalau anak berkata, “Boy band itu keren!”

Tanyakan dari versi anak, apa yang membuat boyband tersebut bisa menjadi keren. Kira-kira apa yang harus dilakukan supaya kamu bisa menjadi keren seperti boyband itu?

Dari proses tersebut, ada beberapa keuntungan yang orangtua peroleh, antara lain anak terstimulasi untuk melakukan evaluasi pada kelebihan-kekurangan diri, yang nantinya akan bermanfaat kelak saat ia lebih dewasa, yaitu untuk mengembangkan potensi diri. Kemudian anak terbiasa mengekspresikan diri baik pemikiran maupun perasaan melalui bahasa, seperti dikutip Tabloid Mom & Kiddie.

Melatih sosialisasi

Di sisi lain, dalam hal bersosialisasi, anak jadi memiliki bahan untuk melakukan percakapan dengan teman sebayanya. Bukan tidak mungkin akan terjadi konflik atau perbedaan pendapat mengenai “Siapa band yang lebih keren?” atau “Siapa personel yang lebih OK di band tersebut?”

Melalui perbedaan pendapat, anak akan belajar menemukan hal-hal positif yang dimiliki oleh idolanya masing-masing dan mengekspresikannya pada orang lain. Anak juga akan belajar menyatukan (conforming) atau berbesar hati menerima perbedaan pendapat saat tidak terjadi kesepakatan atas hasil diskusi. Anak akan belajar melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, tidak hanya dari sudut pandang pribadinya saja.

Si kolektor

Lewat tokoh idola, acapkali anak mengoleksi pernak-pernik yang berhubungan dengan sang idola. Kini beredar aksesoris yang bisa digunakan dalam bidang akademis mereka, misalnya pensil, pulpen, buku, kotak pensil dan sebagainya. Nah Moms perlu mencermati jika anak sudah mulai fanatik, saat ia selalu merongrong orangtua untuk membelikan pernak-pernik tanpa peduli dengan keadaan.

Namun, jangan khawatir karena orangtua tetap dapat memasukkan nilai-nilai positif. Misalnya mengajarkan menabung. Contoh anak boleh membeli pernak-pernik lain dari ‘sisa’ uang jajan yang sudah ditabung. Anak juga akan belajar untuk menahan diri bahwa tidak semua keinginan bisa ia peroleh seketika.

Orang terdekat idola pertama

Memiliki idola tidak terbatas saat anak memasuki masa pubertas. Sebenarnya sejak kecil, anak sudah punya idola. Hanya saja, sebelum memasuki usia sekolah, lingkungan anak lebih banyak di rumah maka idolanya pun terbatas pada orang-orang terdekat, seperti Ibu, Ayah, Kakak, Nenek maupun Kakek.

Saat masih kecil, ia suka mencoba barang yang sama dengan yang digunakan orangtua. Misalnya anak perempuan mau berdandan karena melihat Moms suka menggunakan bedak atau lipstik saat akan bepergian.

Anak laki-laki melihat Dads menggunakan sepatu bot, ingin juga mencoba menggunakannya saat bermain di rumah. Atau anak sering menggunakan kata-kata yang digunakan orangtuanya saat bercakap-cakap.

Ini menunjukkan adanya proses identifikasi namun orangtua seringkali tidak sadar bahwa mereka sedang ‘diidolakan’ karena melihat bahwa itu adalah hal yang wajar.

Memiliki idola juga tidak terbatas pada masa kanak-kanak saja. Saat beranjak dewasa, individu juga memiliki idola, namun perilakunya terkesan tidak seheboh saat masa anak, maka seringkali tidak terlalu diperhatikan.

Contoh seorang marketing atau pebisnis memiliki idola tertentu sebagai acuan atau dasar dalam melakukan bisnisnya. Ia akan menggunakan cara-cara atau strategi yang digunakan idolanya untuk menjalankan bisnis. Dengan kata lain, memiliki idola itu tidak terbatas pada fase usia tertentu saja.

 

Sikapi dengan bijak!

Pada dasarnya mengidolakan sesuatu bukan suatu hal yang negatif, yang penting bagaimana menyikapinya. Jika Moms sudah heboh duluan tanpa mencoba memahami idola dari sudut pandang anak, justru akan membuat anak berpikir yang ‘tidak-tidak’. “Ada apa sampai saya tidak boleh punya idola?”, “Apa yang dikhawatirkan orangtua saya dengan memiliki idola?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin saja dipertanyakan anak. Ketika ia tidak memeroleh jawabannya, ia akan mencari sendiri dan mungkin menjadi tidak tepat. Jadi perlu diingat bahwa setiap hal bisa menjadi sangat bermanfaat asalkan dilihat dari sudut pandang yang baik dan benar. (ind)

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini