Festival Sarongge, Langkah Awal Kampung Sarongge Mendunia

Fitri Yulianti, Jurnalis · Sabtu 29 Juni 2013 17:47 WIB
https: img.okezone.com content 2013 06 29 407 829542 dV4JwEwG13.jpg Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

CIANJUR - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tengah gencar-gencarnya mengembangkan desa wisata di Indonesia. Salah satu yang siap mendunia adalah Desa Wisata Sarongge.

Letaknya tidak jauh dari Jakarta, tapi tentu tidak dengan atmosfernya yang berbeda dari Ibu Kota. Ini dia Kampung Sarongge yang tengah membangun diri menjadi desa wisata.

Mengawali mimpinya untuk mendunia, Kampung Sarongge di Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat, menjadi tuan rumah Festival Sarongge. Festival perdana ini diselenggarakan selama dua hari, 29-30 Juni 2013.

"Tren orang berwisata kini berubah. Mereka bukan sekadar belanja atau tidur di hotel mewah, tapi juga merasakan pengalaman menarik, unik, dan sehat," kata Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pada pembukaan Festival Sarongge di Kampung Sarongge, Cianjur, Sabtu (29/6/2013).

Selama dua hari perhelatan, banyak acara akan digelar. Wisatawan bisa mengikuti kegiatan kemping lalu trekking pada keesokan harinya atau kalau tidak ingin menginap, mereka bisa menyaksikan beragam kebudayaan yang ditampilkan, seperti pencak silat, jaipong, wayang golek, dan sebagainya di Saung Sarongge.

Di Saung Sarongge juga pengunjung bisa belajar cara bertani organik, pembibitan pohon, peternakan, dan berkreasi bersama ibu-ibu PKK setempat. Yang paling ramai dikunjungi, juga oleh masyarakat Kampung Sarongge dan sekitarnya, adalah bazaar yang menjual hasil kriya, kuliner, ternak, juga perkebunan Kampung Sarongge.

"Kami mengajak petani yang punya kamar lebih untuk homestay. Ada 15 rumah, dan laku semua untuk selama festival ini," ujar Tosca Santoso, penggagas Festival Sarongge.

Festival Sarongge diharapkan menjadi kegiatan rutin setiap tahun menjelang liburan. "Kami ingin mengenalkan potensi Kampung Sarongge dan budaya Sunda pada masyarakat juga dunia, yang hidup berdampingan antara manusia dan alam," tutur Dayat, Ketua Panitia Festival Sarongge.

Masyarakat Kampung Sarongge awalnya bermata pencaharian petani sayur. Lahan Perhutani yang dimanfaatkannya kini telah diambil kelola oleh Taman Nasional Gede-Pangrango sebagai kawasan reboisasi. Demi menjaga pemasukan keluarga tetap ada, mereka kini diarahkan untuk mengembangkan lahan peternakan dan pariwisata lewat homestay-homestay yang disewakan kepada wisatawan.

"Mudah-mudahan daerah ini yang tadinya masalah malah akan jadi percontohan. Pemerintah akan mengembangkan taman nasional di sini juga memberi kontribusi untuk masyarakat dengan wisata alam, artinya orang datang bisa menikmati alam," simpul Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini