Share

Meugang, Tradisi Unik Warga Aceh Sambut Ramadan

Salman Mardira, Jurnalis · Selasa 09 Juli 2013 15:54 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 09 335 834283 FDpDYBwbEO.jpg Lapak penjual daging meugang di Banda Aceh. (Salman Mardira/Okezone)

BANDA ACEH - Bulan Ramadan memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Aceh. Mereka punya tradisi unik menyambut bulan suci yang sudah diperingati turun temurun. Meugang yaitu membeli daging dan menyantapnya bersama keluarga.

Meugang diperingati dua hari jelang puasa. Pembeli berkerumun di lapak-lapak penjual daging yang tumbuh menjamur dalam dua hari ini, seperti terlihat di Pasar Beurawe dan Jalan Teuku Dausyah Peunayong, Banda Aceh. Mereka yang berjejer dan menggantungkan daging agar mudah dilihat calon konsumen.

Saat perayaan itu, harga daging naik drastis dan akan kembali normal hari pertama puasa. Bila hari biasa harga daging hanya Rp90 ribu per kilogram, dalam dua hari ini mencapai Rp120 ribu.

"Ini karena meugang. Harga lembu dekat meugang itu sangat mahal, kami pedagang nggak mungkin menjual dengan harga biasa," kata Bahagia (29), penjual daging di Pasar Beurawe, Selasa (9/7/2013).

Hari meugang, rata-rata sapi atau kerbau yang dipotong dari produksi lokal bukan daging pasokan Lampung.

"Kalau kami potong sapi impor bisa nggak laku saat meugang. Orang tetap cari sapi lokal, daging sapi kita (lokal) lebih manis, lebih padat. Pakannya rumput alami, kalau sapi impor udah makan pakan buatan," sebutnya.

Sekalipun mahal, antusiasme warga membeli daging tetap tinggi. Bagi masyarakat Aceh, meugang tanpa membeli daging seakan belum sah. "Walaupun harga mahal, daging tetap harus ada di rumah. Tidak ada uang, berutang dulu. Ini tradisi setahun sekali," ujar Muhammad Nur (31) warga Ie Masen, Banda Aceh.

Dia membeli dua kilogram daging di Pasar Peunayong untuk tiga anggota keluarganya. "Isteri, anak, dan adik. Sudah cukup ini sekalian untuk puasa besok," tambahnya.  

Tradisi meugang bukan hanya berlangsung jelang Ramadan. Sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, warga Aceh juga melakukan hal yang sama.

Ketua Majelis Adat Aceh, Badruzzaman Ismail, mengatakan, meugang memiliki makna silaturrahmi bagi masyarakat Aceh, karena saat itu semua anggota keluarga berkumpul dan makan daging bersama.

Meugang juga memiliki arti wujud gembira dan bersyukur atas datangnya bulan Ramadan. Tidak hanya itu, saat meugang banyak orang mampu membeli daging dalam jumlah besar dan disumbangkan kepada tetangganya yang miskin atau anak yatim.

"Pantang sekali kalau ada orang yang mencium aroma daging dari rumah tetangganya, sementara di rumahnya tidak ada daging," ungkap Badruzzaman.

Konon tradisi meugang pertama sekali diperingati sejak masa Sultan Iskandar Muda ketika memimpin Kerajaan Aceh pada 1607-1636 Masehi. Meugang diatur dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi atau Undang-Undang Kerajaan kala itu.

Sultan memotong ternak dalam jumlah banyak, kemudian membagikan kepada warga miskin yang sudah didata perangkat gampong dan diverifikasi oleh Qadhi (lembaga resmi kerajaan).

Tradisi ini berubah setelah Belanda menginvasi Aceh sekira tahun 1873. Tak ada lagi pembagian daging meugang oleh kerajaan, tapi tradisi itu tetap berjalan dengan cara masyarakat membeli sendiri daging yang dijual di pasaran dan tradisi itu bertahan hingga sekarang.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini