Image

Di Indonesia Ada Kolak, di Malaysia Ada Bubur Lambuk

Johan Sompotan, Jurnalis · Selasa 06 Agustus 2013, 13:19 WIB
https img.okeinfo.net content 2013 08 02 299 846835 Rg2mBWCHMz.jpg Bubur lambuk terkenal di Malaysia ketika ramadan tiba (Foto:tiffinbiru)

SETIAP negara punya kuliner khas saat Ramadan. Indonesia identik dengan kolak, Malaysia punya yang namanya bubur lambuk.

Ketika bulan suci Ramadan tiba, tepatnya di Kampung Baru, Kuala Lumpur, Malaysia, sekumpulan orang berbaris di samping Masjid Jamek, lebih dikenal sebagai Masjid Kampung Baru. Mereka berkumpul demi mendapatkan bubur lambuk.

Sekira seratus orang memasak bubur lambuk yang memiliki aroma harum dan bertekstur sangat kental. Proses memasaknya lambat, dengan bahan tambahannya berupa daging.

Bubur lambuk juga biasa disajikan di beberapa hotel selama bulan Ramadan. Namun di masjid ini, buburnya dibuat dari resep yang terkenal dan sudah digunakan lebih dari setengah abad.

Suguhan bubur lambuk di masjid ini ternyata berkat seorang Muslim Pakistan yang menikah dengan perempuan Melayu setempat. Dia yang membuat resepnya hingga kini disajikan secara turun temurun. Karena terkenal enak, kini banyak umat Muslim di sini yang menyuguhkannya saat Ramadan kemudian dibawa ke masjid, seperti dilansir blogs.wsj.

Bubur ini juga memiliki penggemar dari kalangan non-Muslim. Variasi bubur ini sendiri telah dijadikan ikon pariwisata oleh Kementrian Pariwisata Malaysia. Ramadan diperkirakan akan berakhir pada 8 Agustus. Jika Anda berada di Kuala Lumpur selama Ramadan, mampirlah ke daerah Kampung Baru.

Sebelum menyantap bubur ini, maka dilakukan ritual bubur tahun yang dimulai dengan malam pembersihan, menebang serta memotong tumbuh-tumbuhan, rempah-rempah, bawang merah, bawang putih, jahe, udang kering, dan 500 kilogram daging sapi. Keesokan paginya, disiapkan 10 tenda putih serta terdapat kompor besar untuk memasak bubur.

Proses pemasakannya dilakukan di dalam pot panas, ditambahkan mentega dan minyak goreng dari kelapa sawit. Diberi juga segenggam daun pandan.

Cincang bawang merah dan bawang putih kemudian dimasukkan, beri cengkeh, kayu manis, jintan, adas bintang, dan kapulaga lalu aduk perlahan. Tak lama, aroma rempah-rempah akan tercium.

Jika sudah mengeluarkan aroma, tambahkan daging sapi, aduk secara perlahan. Sekira 20 menit kemudian masukkan udang kering. Aduk kembali dengan sendok panjang, lalu berikan air seember yang dituang ke dalamnya.

Aduk secara terus-menerus, dan setelah 30 menit, aroma sup daging sapi akan muncul. Tambahkan merica hitam bubuk yang dicampur dengan air untuk memberikan tekstur lebih kental. Tambahkan ke dalamnya lalu tutup dan biarkan mendidih. Sepuluh menit kemudian, sup akan berubah jadi cokelat gelap.

Aromanya akan menyerupai sop buntut sapi. Lalu tiba waktunya untuk menambahkan beras. Aduk terus, agar beras tidak menempel ke bagian bawah panci. Satu jam kemudian tambahkan santan, aduk terus.

Teksturnya telah halus dan lembut, sajikan bersama irisan daun bawang, daun ketumbar, dan bawang goreng. Beri di atasnya sebagai taburan.

Bubur ini tidak diperjualbelikan, tapi diberi secara gratis untuk kaum Muslim dan non Muslim. Sekarang, kebanyakan chef memberikan inovasi dalam membuat bubur lambuk.

"Pengalaman memasak bubur ini merupakan budaya yang tak boleh menghilang," kata Manaf Ihsaf Fraih, relawan dari Syriah yang biasa memasak bubur lambuk.

Bubur terus dimasak setiap puasa tiba, tapi untuk porsinya jauh lebih kecil. Sebanyak 15 pot bubur sudah disiapkan di kompleks Masjid Kampung Baru. Bubur lambuk juga dijual di sejumlah warung di luar masjid, tapi untuk rasanya tidak seenak di masjid.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini