nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tarian Saureka-reka, Pesta Kemenangan Warga Ambon

Johan Sompotan, Jurnalis · Selasa 17 September 2013 18:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2013 09 17 408 867555 l10pfJhsEY.jpg Tarian saureka-reka ditampilkan di parade festival teluk Ambon 2013 (Foto:Johan Sompotan)

INDONESIA kaya akan ragam budaya, termasuk jenis tari-tarian dari berbagai daerah. Salah satunya, tarian saureka-reka. Tarian asli Ambon ini asli dibuat warga Ambon.

Menurut Alex Salahatu, pelatih tarian sanggar seni Wairanang ini mengatakan munculnya tarian saureka-reka adalah bentuk ucapan tanda terima kasih atas hasil panen pohon sagu yang didapatkannya.

"Tarian saureka-reka ini ada karena bentuk terima kasih para petani sagu terhadap musim panennya, makanya semua bahan yang dipakai dalam tarian ini hampir 100 persen dari pohon sagu," ucapnya kepada Okezone saat ditemui disela-sela parade Karnaval Festival Teluk Ambon 2013 di Lapangan Merdeka, Ambon, baru-baru ini.

Selain bentuk ucapan syukur terhadap musim panen sagu yang dihasilkannya, tarian ini pun dilakukan atas bentuk terima kasih kepada Tuhan melawan penjajah.

"Ambon itu kan terkenal dengan rempah-rempahnya, untuk menjaga hasil rempahnya kan sangat sulit apalagi banyak bangsa luar ingin merebutnya. Makanya tarian saureka-reka ini dibuat," ungkapnya.

Dalam tarian saureka-reka ini, mereka memakai sebatang bambu besar yang berjumlah enam batang, dimana dua batang berukuran besar sementara empat batang yang lain berukuran kecil.

"Bambu yang dipakai diambil dari ranting pohon sagu, dimana prosesnya bambunya akan dibenturkan kepada bambu yang lainnya. Proses pembenturan inilah yang dilambangkan pada tepuk tangan atau rasa bersyukur," timpalnya lagi.

Menurutnya, untuk bisa melakukan tarian tersebut dibutuhkan tingkat keseriusan karena kesulitannya berada pada kelincahan kakinya. Apalagi, arti saureka-reka yang diambil dari bahasa Ambon berarti gerakan kelincahan kaki.

"Kalau salah melompat, maka kaki Anda akan terjepit diantara dua bambu (gabah-gabah) apalagi, irama kakinya mengikuti bunyi tifa atau gendang. Semakin cepat tifa berbunyi maka bambunya pun bermain sangat cepat pula," tutupnya. (uky)

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini