nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Susu Kalsium Tak Sembuhkan Tulang Keropos

(koran Sindo), Jurnalis · Rabu 06 November 2013 17:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2013 11 06 486 892756 uQ0qnU0O9z.jpg Minum susu (Foto: Google)

BANYAK orang beranggapan tulang keropos alias osteoporosis bisa disembuhkan dengan konsumsi susu berkalsium tinggi. Anggapan itu salah besar. Susu kalsium hanya mencegah dan tidak bisa mengobati osteoporosis.

Sepulang dari rumah sakit, seorang pasien yang dinyatakan dokter mengalami tulang keropos lantas memborong susu berkalsium. Wanita berusia 57 tahun itu beranggapan bahwa dengan konsumsi susu berkalsium tinggi, kondisi tulangnya yang keropos akan segera membaik.

 

“Padahal, tulang yang sudah keropos tidak bisa diperbaiki hanya dengan konsumsi susu berkalsium tinggi. Perlu obat-obat lain selain minum susu kalsium,“ kata Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi) Jaya Dr Ari Fahrial Syam.

Tak hanya penderita osteoporosis, banyak juga pasien yang mengalami masalah sendi, misalnya pengapuran tulang karena sendi yang aus (osteoartritis/OA) beranggapan bahwa minum susu kalsium jadi solusi.

 

“Penting diketahui sehingga masyarakat jangan mudah termakan info yang meluas bahwa masalah sendi atau tulang hanya bisa diatasi dengan minum susu kalsium,” imbuh Ari.

Kelebihan konsumsi kalsium juga bukan tanpa efek samping. Konsumsi kalsium yang terlalu banyak malah bisa menyebabkan sembelit dan jika kalsium sudah menyebabkan kadar kalsium darah tinggi dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal.

 

Ari menyebutkan bahwa pengeroposan tulang tidak terjadi tiba-tiba, tapi terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama. Seseorang yang mengalami keropos tulang mengalami kondisi tersebut karena terpapar dengan kondisi yang tidak sehat dalam waktu panjang.

Memang ada beberapa faktor risiko yang tidak bisa diubah, antara lain jenis kelamin wanita (wanita lebih berisiko dari pria), umur (semakin tua, semakin risiko mengalami keropos tulang), ras (wanita Asia lebih berisiko dari ras lain), dan faktor keturunan. Faktor risiko lain yang sebenarnya bisa dihindari adalah penggunaan kortikosteroid jangka panjang.

 

“Saya melihat obat kortikosteroid sering digunakan oleh tukang obat atau kadang dokter untuk mengobati pasien-pasien yang mengalami masalah nyeri sendi. Mungkin bisa saja nyerinya berkurang, tapi pasien akhirnya berisiko untuk mengalami tulang keropos di kemudian hari,” tutur Ari.

Konsumsi kalsium memang penting untuk menurunkan risiko utama terjadinya pengeroposan tulang. Konsumsi kalsium rendah sejak muda akan menyebabkan kepadatan tulang berkurang. Akibatnya tulang menjadi keropos dan mudah patah di kemudian hari.

 

“Hal ini yang harus diingat oleh masyarakat, terutama pada wanita. Solusinya harus rutin mengonsumsi produk-produk yang mengandung kalsium sejak usia muda. Susu memang sumber utama kalsium, tetapi bukan satusatunya sumber kalsium,” tambahnya.

Makanan lain yang mengandung kalsium tinggi adalah sayur-sayuran seperti bayam, kacang-kacangan, yoghurt, ikan, keju, dan produk olahan susu yang lain. Jadi, susu bukan satu-satunya sumber kalsium. Selain faktor makanan, beberapa gaya hidup yang bisa menyebabkan terjadinya tulang keropos adalah rokok dan konsumsi alkohol. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga bisa menyebabkan tulang rapuh.

“Oleh karena itu pada seseorang yang sudah didiagnosis kepadatan tulangnya kurang (osteopeni) atau bahkan sudah mengalami keropos, dianjurkan stop rokok dan alkohol dan tetap bergerak,” kata Ari.

(tty)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini