Berharap Berkah Janur Kuning Sekaten Keraton Kasunanan

Bramantyo, Jurnalis · Selasa 07 Januari 2014 19:13 WIB
https: img.okezone.com content 2014 01 07 407 923116 xUbItxejs0.jpg Warga berebut janur kuning (Foto: Bramantyo/Okezone)

SOLO - Ratusan warga saling berebut janur kuning penghias bangsa pradangga, Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta, saat gamelan peninggalan Kerajaan Demak, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari, resmi ditabuh. Ini sebagai tanda Keraton Kasunanan memulai pelaksanaan serangkaian puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dalam hitungan detik, hiasan janur kuning ludes diserbu warga yang mempercayai berkah tersendiri dari janur kuning tersebut. Di saat bersamaan, gamelan pusaka milik Keraton dibunyikan pada pukul 14.00 WIB. Gamelan-gamelan itu akan terus dimainkan hingga puncak Maulid Nabi yang jatuh pada 14 Januari 2014, ditandai keluarnya dua pasang gunungan Keraton.

Saat gamelan mulai ditabuh, putra-putri Keraton Kasunanan Surakarta yang hadir, seperti Kanjeng Gusti Ratu (GKR) Wandansari atau Gusti Mung, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, serta kerabat lainnya termasuk para abdi dalem dan masyarakat luas, mulai mengunyah sirih atau nginang. Terlihat para putri Keraton tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat mengunyah sirih tersebut. Dalam kepercayaan lokal, nginang di dekat gamelan Sekaten yang sedang dibunyikan akan membuat orang tersebut awet muda dan terjaga kejernihan pikirannya.

Salah satu putra Paku Buwono IX, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger, mengatakan gamelan-gamelan ini akan dibunyikan secara terus menerus selama sepekan, kecuali sholat lima waktu. Ini merupakan peninggalan Kerajaan Demak. Saat itu, gamelan digunakan Sunan kalijaga sebagai ajang dakwah agar masyarakat lebih mudah menerima syiar Islam dari Sunan Kalijogo.

"Ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Demak. Saat itu Sunan Kalijaga menggunakan gamelan untuk menarik perhatian masyarakat saat itu sehingga syar agama Islam bisa diterima oleh masyarakat," jelas KGPH Puger kepada Okezone di Masjid Agung, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/1/2014).

Menurut KGPH Puger, gamelan identik dengan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kala itu, gamelan ditabuh untuk memeriahkan hari kelahiran Nabi Muhammad sehingga, ungkap Puger, masyarakat akan bertanya-tanya ada keramaian sebenarnya sampai gamelan dibunyikan. Sedangkan mengunyah sirih saat digamelan dibunyikan hanya sebagai tanda tanda peringatan kelahiran Nabi Muhammad.

"Jadi, istilahnya sirih itu sebagai tanda kalau saat gamelan dibunyikan, ini sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad. Jadi, semacam ada kenang-kenangannya. Itu saja tidak ada hal mistik lainnya. Kalaupun ada, itukan hanya dibuat masyarakat saja," pungkasnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini