Share

Ini Dia Masakan Tersulit Chef Marinka

Fitri Yulianti, Okezone · Rabu 08 Januari 2014 11:59 WIB
https: img.okezone.com content 2014 01 08 299 923353 lpyxndL73f.jpg Chef Marinka (Foto: Feri/Okezone)

SETIAP chef memiliki spesialisasi menu yang menjadi andalannya. Saat sebagian menganggap masakan Indonesia sulit diolah, Chef Marinka justru sebaliknya.

Seperti halnya seseorang dengan bidang pekerjaan tertentu, selalu ada spefisikasi yang membuatnya lebih memahami bidang tersebut, juga demi efektivitas dan efisiensi kerja. Pun pada diri seorang chef. Seorang chef bisa saja mendalami berbagai ‘genre’ hidangan, namun biasanya akan ada satu yang paling dia kuasai. Chef Marinka, misalnya, yang menekuni hidangan Prancis, tapi masih menganggapnya sulit.

Baca Juga: Ikut Acara Offline BuddyKu Fest, Cara Jadi Content Creator Handal Zaman Now!

Baca Juga: Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Solusi PowerEdge Gen 15 Server

Follow Berita Okezone di Google News

Perempuan bernama lengkap Rinrin Marinka ini awalnya mengenyam pendidikan pada bidang seni dan desain di Sydney, Australia. Dia juga sempat meneruskan pendidikan di bidang komunikasi visual (fashion design) di kota yang sama. Siapa sangka, tuntutan untuk masak sendiri di negeri orang justru membuatnya jatuh cinta pada dunia kuliner hingga akhirnya dia lulus dari Le Cordon Bleu, Sydney, Australia. Bidang keahlian yang dia ambil adalah French cuisine & patisserie.

Namun, dia justru masih menganggap bahwa masakan Prancis sulit diolah. "Paling susah itu masakan Prancis,” kata Chef Marinka kepada Okezone saat berkunjung ke Gedung HighEnd di Jalan Kebon Sirih, Jakarta, baru-baru ini.

Dan, saat sebagian chef di Indonesia menganggap bahwa masakan Indonesia tidak mudah, dia justru tidak memiliki penilaian sama. “Enggak juga (sulit), tantangannya memang masakan Indonesia menggunakan banyak bahan dan lama memasaknya," tambah juri MasterChef Indonesia ini.

Dia beralasan, masakan Prancis mensyaratkan banyak elemen secara detail dalam suguhannya. Sebut saja saus, yang disajikan pada banyak hidangan Prancis.

“Sausnya enggak boleh kekentalan ataupun keenceran, juga enggak boleh ada minyak di atasnya, harus mulus. Porsi juga penting,” imbuh perempuan 33 tahun ini.

Chef Marinka mencontohkan, pasta tidak boleh lebih dari 110 gram per porsi, ikan maksimal 200 gram per porsi, dan sebagainya. “Benar-benar detail, tapi sisi bagusnya di situ karena yang makan bukan hanya mulut, tapi juga mata kita,” tuturnya.

Kenyataan berbeda ditemukan Chef Marinka pada masakan Indonesia yang menjadi favorit. Istilah "semakin makanan terlihat tidak menarik, maka rasanya akan semakin enak" menjadi keyakinan sebagian orang.

“Gado-gado, misalnya, semakin cokelat dan kental kan semakin enak. Kalau orang bule, melihatnya enggak begitu. Makanya, tantangan kita adalah bagaimana cara masakan Indonesia bisa enak dilihat dan diterima orang bule secara global,” tutupnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini