Jaga Kearifan Lokal, Upaya Wakatobi Bangun Pariwisatanya

Winda Destiana, Jurnalis · Kamis 06 Februari 2014 17:40 WIB
https: img.okezone.com content 2014 02 06 407 937064 oD3NPc59Nd.jpg Foto: wikipedia

JAKARTA - Sejak ditetapkan sebagai Cagar Biosfer dari UNESCO pada Juli 2012 silam, Wakatobi semakin berupaya membangun sektor pariwisata dengan melestarikan lingkungan.

 

“Predikat ini membuat kami saat ini lebih fokus dalam mengembangkan sektor pariwisata dan menjaga budaya, terutama berbasis lingkungan yang bertumpu pada sumber daya laut dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki,” kata Sudjito, Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kepada Okezone, usai konferensi pers “Cagar Biosfer Wakatobi dan Manfaatnya bagi Ekosistem Laut di Indonesia” di Jakarta, Kamis (6/2/2014).

 

Salah satu bentuk nyata pelestarian lingkungan tersebut adalah menjaga kearifan lokal Wakatobi. “Kami bersyukur masyarakat adat dilibatkan sehingga kearifan lokal yang telah berlangsung turun-temurun kembali dikuatkan,” ujar La Ode Usman Baga, Ketua Lembaga Adat Mandati Pulau Wangi-Wangi, Ibu Kota Kabupaten Wakatobi, pada kesempatan yang sama.

 

Hal serupa juga dinyatakan Jaenuddin, tokoh adat Wali Binongko, yang mengatakan bahwa masyarakat berbondong-bondong menjaga alam dari tangan jahil manusia dengan menerapkan hukum adat. “Dengan hukum adat, semua yang salah harus bertanggung jawab. Seperti melakukan pengeboman ikan, mereka akan dikenakan sanksi adat dikucilkan dan dibiarkan hidup sendiri sampai mati kalau tidak mau membayar denda yang telah ditetapkan,” jelasnya.

 

Kabupaten Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki kondisi geografis yang unik dengan hanya tiga persen kawasannya berupa daratan. Di sinilah letak Taman Nasional Wakatobi dengan luas 1.390 ribu hektare yang meliputi 39 pulau, 3 gosong, serta 5 atol.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini