Ketagihan Ceker Kenyal Superpedas

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 11 Februari 2014 13:43 WIB
https: img.okezone.com content 2014 02 11 302 939062 cn3ElOtUtM.jpg Warung Cekeran Midun (Foto: bandungoke)

SEJUMLAH orang memadati warung Cekeran Midun. Menu cekeran yang ditawarkan rumah makan sederhana di Kota Bandung ini memikat hati banyak pencinta kuliner, yang sampai rela antre demi bisa mencicipi kelezatannya.

Kenyal gurih olahan ceker lazim dijumpai dalam kuah sup atau semangkuk mi bakso. Sayang, pamor ceker ayam tak secemerlang dagingnya. Kaki ayam dianggap makanan bernilai murah dan tidak berkelas. Namun, di tangan kreatif Rizki Putra Pratama alias si Midun, ceker ayam pun menjelma menjadi makanan primadona di Kota Bandung.

Cekeran Midun, begitu julukannya. Sejak Maret 2013, Rizki melirik ceker sebagai trade mark, di tengah gempuran tren olahan yang berkiblat ke kuliner internasional. Lewat ceker ayam inilah, Rizki kembali mengangkat citarasa lokal menjadi santapan yang layak bersaing sekaligus diburu banyak kalangan.

Rizki juga menggebrak ranah kuliner ceker dengan sensasi pedasnya yang ”menggelegar”. Anda yang penasaran bisa singgah di kedainya yang bergaya gurun sahara. Saat dihidangkan, bersiaplah mandi keringat kala pedas fantastisnya membakar lidah. Meski kepedasan, lidah seolah ketagihan untuk melahapnya hingga ludes.

Berlokasi di kawasan Dipatiukur, Cekeran Midun hadir dengan konsep tematik. Agar penggemarnya betah, Rizki dibantu Akhmad Rizalullah membuat konsep nyeleneh setiap hari. Tak segan-segan, ide kreatif mereka berdua dituangkan dalam teatrikal yang unik dan mengundang perbincangan di ranah sosial media.

Pada Senin, ada konsep Midun Kakoet. Selasa, Midun Bilingual. Rabu, Midun Ngadalang. Kamis, Midun Kliwon. Jumat, Midun Dugem, Sabtu, Midun Bobogohan. Minggu, Midun Challenge. Setiap hari Cekeran Midun membuat cerita seru sesuai konsep yang diusung. Sambil melayani para tamu, seluruh pegawai kompak mengenakan properti sesuai konsep. Misalnya, saat Midun Ngadalang semua staf memakai kostum wayang dan saat Midun Kliwon semua berpakaian horor, bahkan lampu pun dimatikan hanya ada penerangan lilin.

”Contoh lagi pada Midun Bilingual. Tema ini diperlihatkan dengan eksplorasi kemampuan bahasa. Kami menawarkan ceker dengan bahasa yang berbeda, pokoknya setiap hari harus unik dan membuat pengunjung tertawa ngakak,” ujar Rizki Putra Pratama.

Sebelum menyantap ceker, waiter Midun pasti memandu pelanggannya untuk memilih jenis kuah sesuai selera. Masing-masing kuah memiliki racikan bumbu berbeda. Misalnya, cekeran lapindo, cekeran laut mati, cekeran setan merapi, serta cekeran kuah bakso. Kuah ini juga ditawarkan mulai level pedas paling rendah sampai level terpedas yang menantang lidah. Varian itu dinamakan letusan tangkuban perahu, letusan gunung merapi, letusan galunggung, dan yang paling pedas letusan krakatau.

Bahkan, yang terbaru ada kuah dengan istilah letusan sinabung. 1st trends cekeran of Indonesia ini juga membebaskan Anda untuk memainkan jenis kuah dengan level kepedasan yang disukai. Bagi pencinta olahan superpedas, bisa meramaikan kuahnya dengan letusan krakatau. Kalau kurang mengenyangkan, kita juga bisa menambahkan mi atau mi un dalam kuah ceker.

”Saya sengaja menawarkan tambahan mi dan mi un untuk mematahkan tren ramen yang saat ini marak. Ini bentuk kecintaan saya terhadap produk lokal agar tidak tersingkir oleh tren makanan asing,” tambah Rizki.

Anak muda berusia 24 tahun ini juga terbilang kreatif dalam hal meracik kuah. Misalnya untuk kuah merapi, Rizki berniat memanjakan lidah penikmat pedas. Kuah ini mengandalkan berbagai jenis cabai seperti cabai merah tanjung, cabai keriting, serta cabai rawit domba.

Sementara untuk kuah lain, Rizki meraciknya dari rempah-rempah khas Indonesia. Ambil contoh pada kuah lapindo, Rizki dan Izal membuat kolaborasi antara bumbu kecap, saus tiram, dan basic olahan seafood. Tak pelak, ketika manis kecap bersentuhan dengan pedas, cita rasanya menjadi komplet membuai lidah.

Bagaimana jika tak suka ceker ayam? Di tempat yang sama ditawarkan wingsy alias sayap ayam. Bahkan, ada menu favorit bernama mi kojo yang isinya sangat komplet. Komposisinya ada mi, sayap ayam, serta sosis bartwurst bakar.

Belum genap satu tahun usia Cekeran Midun, Rizki dan Izal sudah bisa menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Dalam sehari warung ini menghabiskan 100-120 kg ceker. Mengenai harganya, tak harus merogoh saku terlalu dalam. Satu porsi ceker ayam dibanderol Rp12.000–25.000 saja.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini