Siasat Resto Holy Crab Tak Terjebak Kasus Keracunan Makanan

Johan Sompotan, Jurnalis · Selasa 04 Maret 2014 10:13 WIB
https: img.okezone.com content 2014 03 04 299 949578 aIYtGfDhzS.jpg Holy crab punya trik biar gak bikin konsumen keracunan makanan (Foto:talkmen)

BELAJAR dari kasus keracunan makanan di Cut The Crab, resto seafood lainnya yang mengusung konsep sama, yakni Holy Crab, punya strategi menghindari kasus serupa.

Albert Wijaya, pemilik resto Holy Crab, mengaku telah mempersiapkan berbagai hal demi memuaskan selera konsumen. Ini dia lakukan sebelum meluncurkan sebuah menu. "Kami melakukan observasi lebih dari dua tahun karena kami sadari betul bila seafood sangat riskan dengan tubuh manusia, termasuk untuk meminimalisir keracunan makanan," katanya ketika dihubungi Okezone, baru-baru ini.

Dia menambahkan, antisipasinya selalu melakukan pengecekan terhadap bahan makanan dan peralatan yang digunakan. Alasannya, seafood sangat riskan dengan bakteri.

"Percuma Anda beli bahan makanan yang segar dan baru, tapi peralatan yang dimiliki tidak dicek," ujarnya.

Albert mencontohkan talenan. Pihaknya menggunakan beberapa talenan sesuai jenis seafood yang diolah karena masing-masing memiliki perubahan suhu yang berbeda. Tak ketinggalan, Albert memerhatikan suhu khusus untuk mengolah seafood. Pasalnya, meski seafood masih hidup, rasa dan aromanya bisa berubah ketika dimasak.

"Bahan makanan tidak boleh berada pada danger temperature zone, yakni di bawah 5 derajat Celsius dan bila panas tak boleh di bawah 45 derajat Celsius," paparnya.

Bila semua kriteria diatas telah dipenuhi, barulah proses dilakukan pemilihan bahan makanan. Untuk seafood, sebisa mungkin harus mendapatkan seafood yang segar.

"Untuk kepiting, maka carilah kepiting yang masih agresif meskipun diikat. Untuk udang, carilah udang yang masih berbau manis. Sedangkan cumi perhatikan tingkat kekenyalannya," tutupnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini