nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wisata Makin Jadi Kebutuhan, Media Sosial 'Biang Keladinya'

Winda Destiana, Jurnalis · Selasa 06 Mei 2014 16:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 05 06 407 980921 oAbXhXVDVZ.jpg Salah satu fenomena yang kini kian marak, 'selfie' (foto: dailymail)

INDUSTRI pariwisata dari hari ke hari mengalami perubahan pesat. Pariwisata kini telah berubah menjadi gaya hidup bagi sebagian masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Berbagai peluang usaha di bidang jasa pariwisata pun mulai merambah, mulai dari pemesanan tiket, akomodasi, hingga alternatif pilihan perjalanan.

Yang tak kalah ramai adalah referensi perjalanan, mulai dari buku, blog, sosial media, layanan jasa informasi, hingga pengalaman yang didapat dari orang lain. Hal ini dilakukan agar penggemar kegiatan wisata mempunyai banyak pilihan berwisata sekaligus mengukur jumlah bujet yang harus dikeluarkan nantinya.

"Survei membuktikan, bahwa refrensi yang banyak digunakan orang dalam memilih tempat wisata adalah referensi yang didapat dari kerabat atau orang yang dikenal, dalam perkembangannya refrensi mengenai tempat wisata juga dapat diperoleh dari sosial media. Esensinya, pengalaman adalah guru terbaik. Jika orang lain dapat memiliki pengalaman menarik dengan berkunjung ke objek wisata itu, maka harapannya kita pun mendapat pengalaman yang sama," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di Jakarta, baru-baru ini.

Perkembangan industri pariwisata dengan media sosial semakin baik. Bahkan, ada akun-akun yang memang disengaja mengunggah foto-foto bertujuan untuk memberikan keterangan informasi suatu lokasi dan secara tidak langsung mempromosikan tempat-tempat tersebut. Tak ayal, banyak follower-nya yang merasa membutuhkan media sosial berdasarkan mengikuti perkembangan zaman. Satu per satu masyarakat dunia pun memanfaatkan jejaring sosial, seperti Path, Instagram, ataupun Pinterest untuk mengabadikan momen mereka berada di suatu tempat menarik atau bahkan belum banyak dikunjungi.

"Kami berharap agar menjamurnya sosial media saat ini dapat mendukung promosi pariwisata," imbuh Mari.

Semakin lama berkembang, orang-orang pun semakin berevolusi. Dari yang awalnya hanya memperbarui status atau mengunggah foto suatu lokasi, kini sebagian besar orang menggunakan media sosial tersebut sebagai ajang ‘selfie’ atau memotret suatu lokasi dengan diri mereka sebagai objeknya. Entah siapa orang pertama yang melakukan ini, akan tetapi fenomena selfie dan keterkaitannya dengan promosi pariwisata saat ini cukup berkembang pesat. Bahkan, beberapa pelaku wisata melakukan fenomena ini sebagai ajang mereka secara tidak langsung mempromosikan apa yang mereka jual kepada khalayak.

Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Hotel sekelas Shangri-La, yang menggunakan sosial media sebagai sarana promosi. Menurut mereka, media sosial dapat menjadi sarana promosi dan interaksi tidak langsung kepada para tamu. Banyak manfaat bisa diambil dari interaksi ini bagi perkembangan dan kemajuan hotel tersebut. Selain bisa mempererat hubungan dengan tamu, melalui sosial media hotel juga bisa mengetahui apa yang diinginkan oleh para tamu. Apalagi, media sosial tidak sekadar interaksi. Kadang melalui akun Twitter atau Facebook juga diadakan kuis dan info promosi khusus.

"Hotel kami menggunakan sosial media sebagai promosi dan interaksi kepada tamu. Banyak manfaat yang bisa diambil dari interaksi ini," kata Joris Satyadharma, Digital Marketing Manager Shangri-La Hotel Jakarta.

Tak ayal, sebagian besar pelaku industri pariwisata maupun pemerintah sendiri berharap keberadaan berbagai referensi tempat wisata, termasuk media sosial, dapat membantu promosi pariwisata serta memperkenalkan Indonesia lebih luas, baik kepada masyarakat lokal maupun masyarakat asing sehingga keinginan menjelajah Indonesia semakin kuat dan membantu angka kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini