44 Tahun Pemerhati Anak, Ini Duka Mendalam Seto Mulyadi

Raiza Andini, Jurnalis · Jum'at 16 Mei 2014 14:43 WIB
https: img.okezone.com content 2014 05 16 196 985825 3TM5S8zNTg.jpg Seto Mulyadi (Foto : Feri/Okezone)

SETO Mulyadi sudah 44 tahun berkecimpung di dunia anak. Dia mengaku tidak mengalami kesulitan maupun duka sepanjang mengurusi berbagai kasus anak Indonesia, didasari kecintaannya yang begitu mendalam untuk para generasi penerus bangsa.

Anak-anak terkadang sering melakukan hal bodoh yang membuat orang dewasa geram dan marah. Namun, tidak sedikit yang sangat lucu, penurut, dan menggemaskan. Kak Seto, yang begitu mendalami karakteristik anak-anak di bawah umur, tidak pernah mengeluh dengan berbagai tingkah polah anak yang menyebalkan.

Pria ramah ini menilai, anak merupakan guru paling bijaksana di muka Bumi. Dia banyak belajar dari anak-anak mengenai bagaimana menyikapi kehidupan. Meski ada berbagai halangan yang sering dihadapi, Kak Seto mengaku hal tersebut bukan rintangan yang membuatnya berhenti bekerja untuk anak.

“Boleh saya katakan, saya tidak pernah mengalami duka atau kesulitan saat mengurusi anak-anak. Mereka sangat menyenangkan. Di saat kita sedang sedih, mereka lah orang pertama yang membuat saya melupakan hal tersebut. Saya banyak belajar dengan anak-anak,” katanya saat berkunjung ke redaksi Okezone di Gedung HighEnd, Kebon Sirih, Jakarta, belum lama ini.

Memang, anak-anak merupakan tempat pelipur lara. Anak-anak diciptakan suci tanpa noda untuk membuat orang dewasa berpikir lebih legowo dalam menghadapi masalah. Dia bahkan mengatakan, seharusnya orang dewasa yang mencium tangan anak kecil, bukan sebaliknya.

“Mereka itu tempat saya meluapkan suka dan duka. Dari mereka saya bisa berpikir untuk sabar. Mereka adalah guru, jadi kita harus cium tangan mereka, bukan sebaliknya,” tuturnya.

Yang membuat Kak Seto berduka dengan anak-anak adalah manakala dia melihat banyaknya kasus pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak di bawah umur. Dengan banyaknya kejadian tersebut, hatinya miris dan sakit.

“Kalau bekerja untuk anak tidak mengenal sedih, tetapi kalau ada banyak kasus kekerasan anak, pelecehan seperti sekarang, itu duka paling mendalam untuk saya,” tutupnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini