nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Moms, Jangan Biarkan Trauma Usai Melahirkan

Mom & Kiddie, Jurnalis · Senin 19 Mei 2014 09:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 05 19 483 986763 5UuZoJh7Nm.jpg (Foto: coupontalks)

MENJADI ibu baru dan memiliki bayi yang sehat tentu memberikan perasaan tersendiri bagi seorang wanita. Namun, proses melahirkan sang bayi menimbulkan perasaan yang beragam pada tiap orangtua dari yang sangat bersemangat hingga rasa cemas. Bahkan dapat menimbulkan perubahan, baik dari diri Moms ataupun Dads.

Duh, ngilu deh rasanya jika membayangkan saat melahirkan normal. Karena bayinya agak besar, alhasil dapat empat jahitan. Saat proses melahirkan juga agak lama, jadi takut kalau akan melahirkan lagi,” beber Mom Risma, satu tahun pasca melahirkan Robby, jagoan kecilnya.

Bagi calon Moms yang memandang positif akan memiliki penyesuaian lebih baik terhadap kehamilan hingga proses melahirkan. Namun, tak semua calon Moms and Dads memandang kehamilan dan kelahiran sang bayi adalah sesuatu yang menyenangkan, terlebih jika mereka memiliki pengalaman yang tidak nyaman sebelumnya.

Berikut adalah beberapa peristiwa yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman bahkan trauma, menurut Fifi Febriani, M.Psi,

•    Proses melahirkan yang lama dan menyakitkan.

•    Operasi sesar karena kondisi darurat.

•    Bayi lahir dengan kondisi yang tidak normal (cacat, sakit, dll).

•    Tenaga medis yang kurang mendukung proses kelahiran dengan nyaman.

•    Bayi yang dilahirkan membutuhkan perawatan intensif.

Perlu Moms ketahui bentuk trauma pasca melahirkan atau bersalin bisa berupa kilas balik proses melahirkan, mimpi buruk, cemas saat mengingat proses bersalin, gelisah, dan panik. Bila dibiarkan dan tidak diatasi, bisa berdampak panjang pada ibu dan bayinya, lalu berlanjut menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Moms perlu waspada bila mengalami tanda-tanda berikut:

•    Mimpi buruk tentang melahirkan bayi.

•    Kesulitan konsentrasi.

•    Merasa lebih sensitif, cepat marah, sedih berlebihan.

•    Menghindar dari bayi karena mengingatkan Anda pada pengalaman yang tidak enak.

•    Menghindari hubungan intim atau kontak fisik dengan pasangan.

•    Takut hamil dan melahirkan lagi.

Bila Moms mengalami tanda-tanda di atas, mungkin dapat dikatakan Anda mengalami PTSD. Dan, PTSD terjadi ketika perilaku Anda berubah secara signifikan akibat kejadian yang traumatik. Sebelum bertambah parah, sebaiknya konsultasikan ke ahli/psikolog.

Yang perlu Moms lakukan jika mengalami peristiwa traumatik:

•    Menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari diri Anda.

•    Mencari tahu apapenyebabnya dengan mencari informasi yang akurat.

Carilah dukungan (support) dengan cara:

1.    Bicarakan dengan pasangan mengenai apa yang Anda alami, perasaan-perasaan Anda. Misalnya ketika Anda menyadari bahwa Anda selalu menghindar untuk berhubungan intim dengan pasangan. Utarakan alasannya, ekspresikan perasaan-perasaan yang ada sehingga pasangan Anda memahami dan mencari solusi terbaik bagi kedua belah pihak.

2.    Jika pasangan Anda terlihat mengalami kondisi yang sama, mintalah bantuan dari orang-orang terdekat lain.

3.    Professional support. Jika dirasa kondisi psikologis Anda tidak juga membaik, segeralah datang ke profesional untuk meminta bantuan dan terapi. Anda juga dapat meminta dukungan dari tenaga medis yang Anda percaya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini