Share

Jejak Teungku Syiah Kuala di Serambi Mekkah

Salman Mardira, Jurnalis · Kamis 03 Juli 2014 12:49 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 03 427 1007585 AMTBDu0AyJ.jpg Makam Teungku Syiah Kuala di Aceh (Foto: Salman/Okezone)

BANDA ACEH - Rosliana kusyu membaca zikir dan doa depan nisan-nisan kuno di Komplek Makam Syiah Kuala. Tangannya disatukan di depan dada, menengadah ke langit. Sejurus kemudian ia menyapu kedua tangannya ke wajah, berdoa pun selesai.

“Alhamdulillah sudah sampai ke sini, sudah lega,” kata perempuan asal Laweung, Kabupaten Pidie itu di makam terletak di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Rosliana sengaja datang untuk melepaskan nazarnya di sana. Makam ulama besar bernama Syech Abdurrauf bin Ali Alfansuri atau popular dengan nama Teungku Syiah Kuala itu, memiliki nilai tersendiri bagi warga Aceh.

Makam ini sering didatangi wisatawan dan penziarah untuk bermunajat doa maupun melepas nazar. Nama besar Syiah Kuala kini ditabalkan pada universitas terbesar di Aceh dan salah satu kecamatan di Banda Aceh.

Lokasi makam ini dulunya diyakini dayah (pesantren) milik Syiah Kuala. Di sinilah ia menempa murid-muridnya dengan ilmu agama. Di komplek itu juga terdapat makam orang terdekat dan pengikutnya semasa hidup. Semuanya sudah dipugar dalam sebuah bangunan cantik, jadi salah satu situs wisata religi bumi Serambi Mekkah.

Ketika tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004, makam yang terpaut hanya puluhan meter dari bibir pantai itu tak mengalami kerusakan serius. Hanya sebagian kecil nisan patah-patah. Pusara Syiah Kuala sendiri yang tergolong tinggi di antara nisan lain, selamat. Padahal pemukiman di sekelilingnya rata dengan tanah.

Senin dan Kamis adalah hari yang banyak didatangi pelepas nazar atau peziarah. Di lokasi berdiri bale-bale, musalla, toilet serta dapur umum yang bisa digunakan untuk memasak menu sajian kenduri lepas nazar.

Ada juga sumur tua di dekat makam. Sebagian warga percaya sumur ini keramat, sehingga sebagian pengunjung meneguk airnya atau membasuh muka karena diyakini membawa berkah dan menyembuhkan penyakit. Namun tetap diawasi agar tak menjurus ke praktik syirik atau menyekutukan Allah.

Menurut Abu Bakar, seorang penjaga makam, muslim dari Sumatera Barat juga rutin berziarah ke sini setahun sekali. Sementara dari luar negeri yang sering berkunjung adalah wisatawan Malaysia, Brunei Darussalam, Turki dan Timur Tengah. “Mahasiswa Malaysia sering juga membuat penelitian di sini,” ujarnya.

Nama Syiah Kuala memang tenar lewat karya-karyanya yang tersebar ke berbagai Negara. Semasa hidupnya, ia memiliki pengaruh kuat dan berperan dalam menyebarkan Islam di Asia Tenggara. Kitab-kitab karangannya menjadi salah satu rujukan bagi orang dalam mendalami Islam.

Menurut riwayat, Abdurrauf Ali Fansury lahir pada 1001 Hijriah atau 1591 Masehi. Keluarganya berasal dari Persia (Iran) yang menetap di Singkil, Aceh, sejak abad 13. Masa muda, Abdurauf pernah belajar Islam hingga ke Arab.

Kemudian ia hijrah ke Banda Aceh, mendirikan pusat pendidikan (dayah) di Meunasah Dayah Kuala (sekarang Deah Raya). Syiah Kuala wafat pada 23 Syawal 1106 H atau 1696 Masehi dalam usia 105 tahun, dan dimakamkan di komplek dayahnya.

Selain sebagai ulama, Syiah Kuala juga menjadi Kadhi Malikul Adil atau hakim agung Kerajaan Aceh selama 59 tahun. Jabatan itu diembannya pada masa kepemimpinan empat ratu, yakni Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1645 M), Sultanah Naqiatuddin Syah (1675-1678 M), Sultanah Zakiatuddin Syah (1678-1688 M) dan Sultanah Kamalat Syah (1688-1699 M).

Dia dikenal sebagai sosok yang adil dan bijaksana sebagai pemutus hukum kerajaan. Jasanya dikenang sampai sekarang lewat peribahasa Aceh “Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala” artinya adat ditangani raja, sedangkan hukum diputuskan Syiah Kuala.

Kolektor manuskrip dan naskah kuno Aceh, Tarmizi Abdul Hamid, mengatakan, Syiah Kuala ulama yang banyak menghasilkan karya, namun sebagian besarnya tak disertai namanya. “Ini menandakan bahwa beliau penulis yang ikhlas, membagikan ilmunya secara tulus tanpa menonjolkan namanya,” kata dia.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini