Masjid Warisan Kerajaan Pajang, Saksi Bisu Syiar Islam

Bramantyo, Jurnalis · Senin 21 Juli 2014 19:47 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 21 427 1015941 XTP2eX4YYq.jpg Masjid peninggalan kerajaan Pajang (Foto: Bramantyo/Okezone)

SOLO- Kota Solo memiliki banyak bangunan kuno berupa masjid yang memiliki nilai sajarah dan budaya yang sangat tinggi yang dibangun sejak  jaman kerajaan kuno. Di antaranya Masjid Laweyan, Masjid Agung Surakarta milik Kraton Surakarta, Masjid Al Wustho milik Puro Mangkunegaran, dan Masjid Kepatihan.

 

Salah satu masjid di Solo yang menjadi bukti dan saksi sejarah syiar agama Islam masa lampau dan masih berdiri dengan kokoh adalah Masjid Laweyan. Meski sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu, namun kondisinya masih kuat dan dijadikan tempat beribadah umat muslim sampai saat ini.

 

Masjid Laweyan di bangun pada masa Kerajaan Pajang sekira tahun 1546. Awalnya bangunan ini adalah Pura karena kerajaan jaman dulu dipengaruhi kultur Hindu. Merupakan pura milik Ki Ageng Belukan, tokoh yang juga pemuka agama Hindu

 

Uniknya bangunan Masjid Laweyan dipengaruhi arsitektur Hindu-Jawa. Terlihat dari bentuk ruang  ruang masjid yang di bagi menjadi tiga. Yakni  ruangan induk, serambi kanan dan serambi kiri. Serambi kanan menjadi tempat khusus putri atau keputren, sedang serambi kiri merupakan perluasan untuk tempat shalat jamaah.

 

Sebab itulah bentuk dari bangunan Masjid Laweyan merupakan pengaruh Hindu-Jawa. Terlihat dari tata ruang dan juga  sisa ornamen yang ada di masjid.

 

Seiring masuknya ajaran Islam, pura tersebut beralih fungsi menjadi pusat syiar Islam. Atas campur tangan dari   Ki Ageng Henis, seorang  penasihat spiritual Kerajaan Pajang, juga sahabat Sunan Kalijaga maka pura tersebut di jadikan masjid sebagai tempat mensyiarkan agama Isalam.

 

Akhirnya Ki Ageng Beluk pemilik pura tersebut tertarika dan kemudian  memeluk Islam. Bahkan makam Ki Ageng Beluk dan Ki Ageng Henis berada di kompleks pemakaman di samping masjid.

 

Menurut Takmir Masjid Laweyan H Achmad Sulaiman, menyebuitkan mulai berdiri sampai saat ini namaya tetep Masjid Laweyan. "Diberi nama sesuai wilayahnya yakni Laweyan," jelasnya di Solo Jawa Tengah.

 

Menurut Sulaiman Masjid Laweyan pernah direnovasi besar pada  masa pemerintahan Paku Buwono X dan terakhir  pada 2000-an.

 

Sulaiman juga  mengungkapkan, selama Ramadan ini pendatang dari  dari luar kota yang melakukan iktikaf di masjid. "Selain itu jika hari biasa, banyak juga jika ada orang yang memiliki keinginan khusus, mereka melakukan salat lima waktu selama delapan hari berturut-berturut, seperti shalat di Masjid Nabawi," pungkasnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini