nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Bipolar, Gangguan Jiwa Bersifat Episodik

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Kamis 07 Agustus 2014 15:28 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2014 08 07 482 1021295 B44gW2njtM.jpg Ilustrasi bipolar atau gangguan Jiwa Bersifat Episodik (Foto: Bettermedicine)

GANGGUAN bipolar kini tengah hangat dibicarakan, terutama sejak dokter keluarga Marshanda mengatakan bahwa sang artis mengidap gangguan tersebut. Lalu, seperti apa sebenarnya gangguan bipolar ini?

dr AAA Agung Kusumawardhani, SpKJ (K), selaku ahli ganguan jiwa, psikiatri, sekaligus Kepala Departemen Psikiatri RS Cipto Mangunkusumo, menjelaskan bahwa bipolar adalah gangguan jiwa yang bersifat episodik.

“Episodik itu artinya adalah pada rentang waktu tertentu, penderita bipolar mengalami gangguan jiwa, tetapi di rentang waktu lain dia kembali normal, atau rentang waktu lainnya lagi penderita bipolar dalam kondisi berlawanan dari episodik yang sebelumnya,” ujarnya kepada Okezone melalui sambungan telefon, Kamis (7/8/2014).

Lebih lanjut, dr Agung mengutarakan bila episodik pada gangguan bipolar di antaranya depresi, manik, dan hipomanik yang minimal berlangsung selama dua pekan. Ada beberapa gejala dari episode depresi, di antaranya setiap hari sedih, mengurung diri, pesimis, hingga aktivitasnya menurun. Bahkan, bila penderita bipolar sedang dalam puncak episode depresi, seringkali muncul keinginan untuk bunuh diri. (Baca: Dua Cangkir Kopi Sehari Kurangi Risiko Gagal Jantung)

“Kadang-kadang ketika di puncaknya keluar ide-ide bunuh diri atau menyakiti diri, nah itu berlangsung lebih kurang dua minggu atau bisa sedikit lama sekira dua bulanan, tetapi minimal dua minggu, itu kita sebut dia (penderita bipolar-red) dalam episode depresi,” jelasnya.

Tetapi, imbuh dr Agung, di rentang waktu lain pada penderita bipolar bisa muncul episode yang berkebalikan dari depresi, yakni manik dan hipomanik. Sementara itu, bila tanda-tanda dari manik adalah aktif dan penderita bipolar melakukan tindaka-tindakan yang berisiko tinggi dan tanpa berpikir panjang. (Baca: WHO perdebatkan kode etik pengujian ZMapp ke pasien Ebola)

“Kalau episode manik itu penderita bipolar menjadi serba aktif, melakukan tindakan-tindakan yang berisiko tinggi, dan kadang-kadang deal bisnis yang berlebihan tanpa berpikir karena judgment-nya terganggu. Selain itu, biasanya dia (penderita bipolar-red) menjadi serba menunjukkan kehebatan diri sampai merasa paling pintar, hebat, dan paling kaya,” jelasnya.

Sedangkan untuk hipomanik, dr Agung mengatakan bahwa penderita bipolar dalam kondisi yang lebih aktif dari biasanya. Bahkan, penderita bipolar yang sedang dalam episode manik menjadi lebih banyak ide, tetapi belum sampai mengganggu.

“Jadi, bipolar itu adalah gangguan jiwa yang sifatnya episodik, ditandai dengan gejala-gejala episode depresi, manik, dan hipomanik. Tetapi bisa juga campuran, satu rentang tertentu dua gejala bisa ada, depresi dan manik, saling bergantian,” pungkasnya.  

(fik)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini