Share

Pada Robin Williams, Adakah Parkinson Tingkatkan Risiko Bunuh Diri?

Fitri Yulianti, Jurnalis · Senin 18 Agustus 2014 00:36 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 17 482 1025774 50CbwOwQ9k.jpg Robin Williams mengalami gejala awal penyakit Parkinson (Foto: livescience)

AKTOR Robin Williams mengalami gejala awal penyakit Parkinson sebelum ia bunuh diri pada awal pekan ini. Banyak penelitian yang mencari hubungan di antara Keduanya.

Dalam sebuah pernyataan, istri mendiang Williams, Susan Schneider, mengatakan bahwa suaminya telah berjuang dengan tahap awal penyakit Parkinson. Namun, sang aktor tersohor tersebut tidak siap untuk berbagi diagnosisnya dengan masyarakat.

"Robin tenang dan dia berani saat berjuang dengan depresi, kecemasan, serta tahap awal penyakit Parkinson, yang ia belum siap untuk berbagi secara terbuka kepada masyarakat," kata Schneider, seperti dikutip USA Today.

"Ini merupakan harapan kami, bahwa setelah lewat tragedi Robin, orang lain akan menemukan kekuatan untuk mencari perawatan dan dukungan yang mereka butuhkan untuk mengobati masalah yang mereka hadapi sehingga mereka tidak akan lagi merasa takut," tambahnya. (Baca: Robin Williams Bunuh Diri di Usia Matang, Apa Sebab?)

Diketahui, penyakit Parkinson menyebabkan hilangnya sel-sel di bagian otak yang mengontrol gerakan otot. Gejalanya bisa berupa tremor, kekakuan pada lengan dan kaki, dan gangguan keseimbangan serta koordinasi, menurut National Institutes of Health.

Gejala Parkinson biasanya muncul secara bertahap, dan seiring gejala yang terus berlanjut, biasanya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit Parkinson, tetapi obat-obatan yang ada dapat membantu mengurangi gejalanya.

Kebanyakan orang menerima diagnosis Parkinson setelah usia 60, tapi sekira 10 persennya menerima diagnosis sebelum usia 40, menurut Yayasan Parkinson Nasional AS. Williams sendiri menerima diagnosis Parkinson pada usia 63. (Baca: Menjadi Sorotan Publik Bukan Sebab Robin Williams Depresi)

Beberapa studi telah meneliti, adakah hubungan antara penyakit Parkinson dan peningkatan risiko bunuh diri? Hasilnya, belum ada satupun penelitian yang menyimpulkan ada hubungan di antara keduanya, seperti disitat LiveScience, Senin (18/8/2014).

Sebuah studi pada 2007 yang dilakukan di Denmark menemukan bahwa tingkat bunuh diri di kalangan orang-orang dengan penyakit Parkinson adalah sama dengan populasi umum. Sementara, sebuah studi pada 2001 di Amerika Serikat yang melibatkan lebih dari 144.000 orang dengan penyakit Parkinson menemukan bahwa tingkat bunuh diri pada populasi umum adalah sekira 10 kali lebih tinggi dari tingkat bunuh diri di kalangan orang-orang dengan penyakit Parkinson.

Namun, sebuah studi pada 2008 menemukan tingkat yang lebih tinggi dari perkiraan bunuh diri di antara orang-orang dengan penyakit Parkinson yang telah menjalani pengobatan yang disebut stimulasi otak. Stimulasi otak melibatkan operasi yang menanamkan perangkat untuk mengirimkan impuls listrik ke otak. Dalam studi ini, bunuh diri lebih mungkin pada partisipan yang mengalami depresi. (Baca: Kematian Robin Williams, Antara Depresi & Kesedihan)

Nyatanya, tidak ada laporan bahwa Williams menjalani stimulasi otak semacam ini. Biasanya, stimulasi otak digunakan untuk orang-orang dengan penyakit lanjut Parkinson, dan hanya direkomendasikan jika tubuh pasien tidak dapat merespons obat.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini