Belowcepek Siap Jajaki Pasar Malaysia

Evi Elfira, Jurnalis · Jum'at 07 November 2014 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2014 11 07 194 1062505 belowcepek-siap-jajaki-pasar-malaysia-tvTe3C2oV4.jpg Fashion Link Jakarta Fashion Week (Foto: Evi/Okezone)

SEBAGAI retail fashion online, Belowcepek pertama kalinya mengikuti Fashion Link di Jakarta Fashion Week (JFW). Belowcepek pun membuka dua booth dalam Fashion Link pertamanya.

Terdapat dua area booth di Fashion Link JFW ini. Di bagian dalam dikhususkan untuk bussiness to bussiness (b to b), sedangkan di bagian luar bisa untuk masyarakat umum. Fashion retail inipun mengikuti keduanya dengan membawa belowcepek serta lini busana baru untuk b to b.

"Untuk yang b to b, saya tidak bawa belowcepek tapi membawa Ree. Bedanya Ree dengan belowcepek itu dia bisa dipesan," kata Riana selaku pemilik Below Cepek kepada Okezone di Senayan City, Selasa 4 November 2014.

Dengan harga yang terjangkau, booth belowcepek pun langsung saja diserbu oleh pengunjung. " Di fashion link ini dalam sehari untuk below cepek saya laku 50-60 baju perhari. Dan memang terjadi ketimpangan keramaian booth belowcepek. Karena memang saya jual baju untuk wanita kebanyakan, harganyapun affordable di bawah 100ribu rupiah," jelas Riana.

Menurut pemilik belowcepek ini, banyaknya pembeli koleksi busananya merupakan hasil dari sebuah strategi bisnis. Dia pun berharap para pengusaha fashion bisa melakukan hal yang sama dengannya jika ingin memiliki pasar yang besar.

"Harusnya pemain seperti saya lebih banyak kalau memang ingin mentargetkan pada mass market. Karena kalu kita lihat pasar kan itu seperti piramida, yang paling besar itu di tengah," imbuhnya.

Lebih lanjut, Riana bercerita bahwa sekarang ini pemerintah menerapkan dumping bahkan dalam industri mode. Barang-barang impor terutama dari China makin banyak berdatangan dalam harga yang terjangkau. Menurutnya, inilah yang membuat masyarakat memilih untuk menggunakan produk luar daripada produk lokal. Jika hal ini ingin selalu diterapkan, maka perlu adanya peningkatan kualitas dalam segi produk.

"Kalau pemerintah mau dumping harus dipastikan kualitasnya benar-benar bagus. Seperti di Jepang misalnya, ada baju yang benar-benar bagus dan tidak bisa ditemukan di tempat lain. Kalau ada kebijakan dumping masyarakat pasti mau beli sekalipun harganya lebih mahal," tutur Riana.

Terlepas dari hal tersebut, Riana kini mengaku bahwa sudah ada buyer yang memberikannya penawaran kerjasama. Namun hingga saat ini pihak buyer baru memberikan perjanjian atau agreement dan siap untuk berbicara dengan Riana untuk bisnis yang lebih serius.

"Buyer sudah ada yang memberikan agreement kepada saya yaitu dari Kuala Lumpur. Karena memang baju saya lebih ke Asia. Mereka tertarik dengan gamis saya yang terbuat dari bahan kaus," terangnya.

Untuk label Ree, Riana membuat tiga macam busana yang sehari-harinya memang dikenakan oleh para wanita. "Untuk Ree sendiri kami punya tiga koleksi yaitu untuk office, kasual, dan Cirebon chic yang berupa batik cirebon dibuat langsung oleh pengrajin cirebon. Harganya berkisar dari 7-15 dollar," tutupnya.

(fik)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini