nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Psikopat Hingga Pelaku Bullying Punya Trauma Masa Lalu

Marieska Virdhani (Okezone), Jurnalis · Sabtu 03 Januari 2015 18:10 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 01 03 196 1087404 psikopat-hingga-pelaku-bullying-punya-trauma-masa-lalu-ENnZi95YPw.jpg Psikopat hingga pelaku bullying punya trauma masa lalu (Foto: Abcnews)

SESEORANG dengan trauma masa lalu akan berdampak buruk dengan pembentukan sikapnya hingga keturunannya. Namun, studi baru menyebutkan, seorang wanita mengalami trauma bertemu dengan pasangan yang baik dan tulus, maka dapat mengubah pribadinya.

Kondisi ini pun berdampak pada bayi dan keturunannya. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh ahli neurobiologis dan terapis okupasi dunia Kim Barthel.

“Seseorang yang depresi, jika bertemu dengan seorang pasangan yang kemudan menjadi ayah yang baik di dalam rumah tangga, akan efektif mengobati trauma ibunya. Kesehatan mental bayi sangat tergantung pada ibunya dari makanan, senyuman, dan pengenalan lainnya. Suami menjadi orang nomor satu menyelesaikan masalah,” katanya dalam seminar di Vokasi Universitas Indonesia (UI) The Behavioral Detective: Evidence and Art, Sabtu (3/1/2014).

Seorang anak yang menjadi korban perceraian terkadang tidak berpengaruh langsung pada prestasi dan akademis juga pergaulan di lingkungannya. Namun sesungguhnya, di dalam diri mereka menyimpan banyak trauma mendalam yang tidak dapat terlihat oleh orang lain.

“Berpura- pura tidak terjadi apa-apa, bahkan nilai mereka bagus di sekolah, dan bisa bergaul dengan teman-temannya,” tegasnya.

Namun, anak korban trauma dan perceraian sangat sensitif dengan apa yang ia rasakan bukan apa yang dirasakan oleh orang lain. Kim menambahkan, terkadang seorang psikopat juga tidak terlihat dari mimik wajah ataupun sikap.

“Kadang ketemu dengan psikopat juga terlihat baik-baik saja. Ada juga yang punya pekerjaan bagus, orang terpandang. Tetapi apa yang terjadi sesungguhnya akibat trauma,” jelasnya.

Trauma tersebut juga terjadi pada kasus bullying pelajar di sekolah yang belakangan marak terjadi di Indonesia. Menurut Kim orangtua dan diri sendiri harus mampu mengubah itu, jangan terus berlarut dan terjerumus.

“Bisa karena trauma dari orangtuanya, atau seorang yang mem-bully dulunya juga korban bully, perubahan tergantung pada dirinya dan orangtua,” tegas Kim.

(fik)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini