nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pedagang Makanan Ilegal Terus Meningkat di Singapura

Dinno Baskoro, Jurnalis · Sabtu 03 Januari 2015 18:48 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 01 03 298 1087482 pedagang-makanan-ilegal-terus-meningkat-di-singapura-V3yJkIaCzq.jpg Pedagang makanan ilegal marak di Singapura (Foto: Soshiok)

THE National Environment Agency (NEA) atau sering disebut sebagai Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura telah menerima lebih dari 3.300 laporan dari masyarakat, sejak bulan November lalu perihal makanan ilegal yang terus merajalela di Negera tersebut.

Jumlah makanan tak berlinsensi ternyata makin meningkat sejak awal tahun 2014. Penjual tanpa izin biasanya menjajakan dagangannya di lokasi sibuk dan padat penduduk, seperti di sekitar MRT (Mass Rapid Transit), stasiun kereta, dan terminal bus. Makanan ilegal ini biasanya berupa buah-buahan, curry puff (Karipap), dan chestnut panggang.

Sebelumnya, 600 pedagang ilegal telah ditangkap NEA pada 2014. Pada tahun sebelumnya, ada sekira 550 pedagang ilegal yang ditangkap. Seorang juru bicara NEA menyarankan masyarakat untuk tidak membeli makanan dari penjaja ilegal.

"Makanan ilegal seperti curry puff mungkin tidak dibuat dengan prosedur yang sesuai. Kita tidak tahu tingkat kebersihan dan kualitasnya sesuai standar atau tidak," kata juru bicara itu.

Seperti diketahui, curry puff adalah makanan yang paling umum dijual, dan selalu ada dalam sepertiga dari daftar makanan ilegal yang masuk dalam laporan NEA. Penjual makanan ilegal yang tertangkap akan dikenakan denda dan tentu saja, barang dagangan akan disita.

Seorang penjual chestnut panggang, bernama Mr. Low, mengatakan kepada The Straits Times, dalam lima tahun terakhir sudah 10 gerobak miliknya yang disita oleh NEA.

Saat tidak bisa membayar denda, katanya, ia harus dipenjara selama beberapa hari. Ia mengaku selama tertangkap, ia telah sekitar satu bulan dipenjara sejauh ini. Setelah bebas, ia tetap berjualan kembali, pasalnya ia merasa tidak ada harapan lain untuk bekerja selain berjualan.

"Kami tahu menjual makanan ini adalah melanggar hukum, tapi saya tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk hidup," pungkasnya. Seperti dilansir Soshiok, Sabtu (3/1/2014).

(fik)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini