nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kecelakaan Pesawat Munculkan Trauma Sosial

Marieska Harya Virdhani, Jurnalis · Minggu 04 Januari 2015 15:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 01 04 196 1087635 kecelakaan-pesawat-munculkan-trauma-sosial-MonSLQV8Oh.jpg Kecelakaan pesawat AirAsia memunculkan trauma di masyarakat (Foto: Reuters)
KECELAKAAN pesawat yang terus diberitakan bisa memunculkan trauma sosial. Saat seseorang mengalami trauma mendalam, pola serupa akan menurun pada tujuh generasi berikutnya hingga perlu terapi okupansi.
 
Sepekan terakhir, masyarakat menyaksikan bagaimana proses evakuasi korban dan pencarian bangkai pesawat AirAsia QZ 8501. Ahli Neurobiologis dan Terapis Okupasi Dunia, Kim Barthel, mengatakan bahwa kecelakaan pesawat menyebabkan trauma sosial. Pasalnya, manusia pada umumnya memiliki rasa takut jika dekat dengan kematian.
 
“Memang, kejadian pesawat ada peluang memunculkan trauma sosial. Orang takut pada kematian, rasa takut alami yang dimiliki seserang,” katanya dalam seminar “The Behavioral Detective: Evidence and Art” hari ke-2 di Vokasi Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Minggu (4/1/2014).
 
Keadaan demikian, katanya, dimanfaatkan media massa untuk terus mengulangi pemberitaan terkait kecelakaan pesawat atau pemicu trauma kepada khalayak ramai. Sebagian masyarakat tetap menyaksikan karena merasakan empati.
 
“Karena tubuh memiliki mirror neuron, tubuh bisa bercermin. Begitupun saat peristiwa 9 September WTC di Amerika Serikat yang kerap diulang media massa,” imbuhnya.
 
Kecelakaan pesawat yang terus diberitakan memunculkan trauma sosial
 
Tidak menutup kemungkinan, sebagian di antaranya merasakan trauma hingga menunda keberangkatan dengan pesawat untuk menghindari kejadian serupa. Ditambahkan Kim, seseorang yang trauma dengan kecelakaan pesawat atau pernah mengalaminya perlu bantuan seorang terapi okupasi (occupanational therapy/OT) untuk memulihkan jiwanya.

“Kecelakaan pesawat menyebabkan trauma, kehadiran OT sangat penting saat terjadi trauma tersebut. Tujuh puluh persen kehadiran OT mengurangi potensi kejadian post trauma,” ungkapnya.
 
Lebih lanjut, Kim mengatakan bahwa orang tersebut harus memiliki pendamping yang menemani dan mendengarkan traumanya. Maka, jika trauma berhasil diatasi, orang tersebut tidak akan “menularkan” trauma pada generasi selanjutnya.
 
“Ada seseorang yang mendampingi, memegang tangannya, mendengarkan agar tak terjadi trauma berkepanjangan,” tutupnya.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini