nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Deteksi Dini Kelainan Kromosom pada Bayi Tabung

Renny Sundayani, Jurnalis · Selasa 20 Januari 2015 11:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 01 20 481 1094568 deteksi-dini-kelainan-kromosom-pada-bayi-tabung-vkkFT7MHS2.jpg Deteksi dini kelainan kromosom pada bayi tabung (Foto: Calvinturnquest)

MASALAH infertilitas di Indonesia memengaruhi satu dari 10 pasangan yang berupaya mempunyai keturunan. Saat ini diperkirakan ada sekira 3 juta pasangan di Indonesia yang mengalami kesulitan memiliki anak.

Program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) telah cukup diterima sebagai upaya teknologi reproduksi yang dapat memberikan kemungkinan berhasilnya kehamilan paling baik. Namun, masih banyak kendala pada program itu, terutama angka keberhasilan yang masih relatif belum optimal.

Dengan kiprah Morula IVF Indonesia yang telah 17 tahun berkarya, kini ada terobosan teknologi pertama di Tanah Air yaitu pre-implantation genetic screening (PGS) yang diadaptasi dari lembaga Reproductive Health Science Ltd Australia dan ditandai dengan perkenalan seputar seluk-beluk PGS.

Menurut Direktur Pengembangan Produk dan Teknologi dr Ivan R Sini, SpOG, proses PGS merupakan suatu proses untuk mengetahui apakah embrio yang akan ditanamkan miliki kelainan kromosom atau tidak.

"Caranya dengan biopsi sel dari embrio. Teknologi untuk melakukan pemeriksaan analisis kromosom sudah dicoba sejak 30 tahun lalu. Tetapi, hanya bisa deteksi tiga kromosom, yaitu 13, 18, dan 21, dan itu pun memakan waktu yang lama. Sedangkan manusia miliki 23 kromosom, dan satu kromosom seks. Maka, dicarilah cara untuk bisa deteksi 24 kromosom pada manusia dengan teknologi terbaru yang berkembang, yaitu array comparative genomic hybridization (array CGH). Teknologi ini memungkinkan labotarium untuk mendapat jawaban analisis kromosom dari sampel sel dalam hitungan jam, sampai maksimal 24 jam," bebernya di Rumah Sakit Bunda Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2014).

Tujuan dilakukan PGS tersebut untuk meningkatkan angka implementasi (penempelan embrio pada rahim), sehingga dapat menurunkan angka keguguran serta peningkatan angka kelahiran bayi hidup.

"Pada studi randomized control trial (RCT), yang membandingkan embrio baik secara morfologi (bentuk) dibandingkan embrio yang baik setelah dilakukan PGS, maka terjadi peningkatan angka implementasi dan kehamilan dari 42 persen menjadi 69–70 persen," tambahnya.

Teknologi PGS, lanjut dr Ivan, tengah marak di industri kesehatan, khususnya program bayi tabung, dari dunia ke masyarakat Indonesia.

Tentunya dengan adanya teknologi tersebut akan membantu dokter kandungan untuk mengetahui dan menentukan apakah ada kelainan kromosom dan embrio pasien yang akan ditanamkan, sehingga dapat meningkatkan persentase keberhasilan kehamilan, memperkecil risiko lahirnya bayi dengan kelainan kromosom, dan dapat mencetak kelahiran bayi dari program bayi tabung.

(yac)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini