nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penyebab Kegagalan Program Bayi Tabung

Renny Sundayani, Jurnalis · Rabu 21 Januari 2015 11:54 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 01 21 481 1095095 penyebab-kegagalan-program-bayi-tabung-2Ax5loYAAm.jpg Penyebab kegagalan program bayi tabung (Foto: Sheknows)

PERKEMBANGAN di dunia kedokteran kini memudahkan pasangan suami-istri yang kesulitan memiliki anak. Salah satu perkembangan itu melalui in vitro fertilization (IVF) atau program bayi tabung.

Kegagalan saat menjalani program bayi tabung memang tak bisa dimungkiri. Hal itu disebabkan beberapa faktor, seperti ditemukannya kelainan pada kromosom, yang berakhir embrio tidak normal, sehingga berdampak kegagalan kehamilan atau terjadi keguguran.

Guna meningkatkan peluang keberhasilan program bayi tabung, Morula IVF Indonesia memperkenalkan teknologi terbaru yaitu preimplementation genetic screening (PGS). Teknologi tersebut bisa menentukan kenormalan kromosom dari embrio.

"Untuk mereka yang sering mengalami keguguran, gagal bayi tabung sebanyak tiga kali, bahkan orangtua yang alami kelainan kromosom, perlu PGS," ungkap Profesor DR dr Sugiharto, SpOg, kepada Okezone, di Rumah Sakit Bunda, Menteng, Jakarta Pusat.

Cara kerja PGS, lanjutnya, dengan memasukkan spermatozoa 1, kemudian setelah terjadinya morula, diambil yang dinamakan blastomi kromosom. Setelah dilakukan tes menggunakan PGS akan keluar hasil, ada kelainan kromosom atau tidak. Jika ditemukan adanya kelainan kromosom, maka tidak disarankan untuk ditransfer ke dinding rahim.

"Artinya, kalau sel sudah jelek, tidak usah ditransfer lagi. Kalau bagus, ya ditransfer," terang dr Sugiharto.

Ia menuturkan, teknologi PGS sudah dicoba di luar negeri pada 10–20 tahun yang lalu. Sayangnya, Indonesia baru saat ini menggunakan PGS, lantaran masih adanya kontroversi dari penemuan tersebut.

Teknologi ini, lanjutnya, sangat mutakhir. Pasalnya, PGS bisa mendeteksi 24 kromosom seseorang. Bahkan, hanya dalam 24 jam, bisa mendeteksi penyakit yang akan dialami si calon bayi di kemudian hari dengan mengecek kromosomnya.

"Kan setelah diuji lab, kelihatan hasilnya kromosom yang jelek. Misalnya, kromosom 13, nanti si anak lahir akan cacat, misalnya," beber dia.

Ditanya perihal keberhasilan dari PGS pada program bayi tabung, dr Sugiharto mengatakan bahwa PGS masih fase uji coba sampai Maret 2015. Rencananya mulai dibuka untuk umum di Morula IVF Jakarta pada April 2015 dengan kisaran biaya Rp30 juta.

(yac)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini