Berkelana di Ruang Pamer 25 Tahun Karier Didi Budiardjo

Wilda Fitria, Jurnalis · Jum'at 23 Januari 2015 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2015 01 23 194 1096158 menapaki-pengembaraan-25-tahun-karier-didi-budiardjo-oA6dzNFBB6.jpg Didi Budiardjo di salah satu ruang pameran Pilgrimage (Foto: Josep/Okezone)
DIDI Budiardjo mempresentasikan pengembaraan 25 tahun berkarier di dunia fesyen pada pameran bertajuk "Pilgrimage" di Museum Tekstil, Jakarta. Pengunjung diajak berkelana pada setiap ruang dalam pameran.
 
Pameran "Pilgrimage" digelar 16 Januari 2015 hingga 25 Januari 2015. "Pilgrimage" bernarasi tentang pengembaraan Didi Budiardjo dalam perjalanan panjangnya selama 25 tahun, tepatnya sejak 1989, di dunia fesyen.
 
"'Pilgrimage' artinya perjalanan atau jarak yang berhubungan dengan spiritual,” kata Didi kepada Okezone saat ditemui di Museum Tekstil, Jakarta, baru-baru ini.
 
Didi memajang berderet rangkaian koleksi mode dari masa ke masa. Terdapat 70 set busana yang terdiri dari 300 exhibit atau benda pamer, termasuk aksesori serta kelengkapan lainnya.
 
“Mengapa baru dilakukan setelah 25 tahun, perjalanan seorang fashion designer itu perlu jarak. Dan, jarak itu yang memperbolehkan kita untuk mengetahui proses,” imbuhnya.
 
Pengunjung seolah diajak berkelana, melakukan perlawatan ke 14 kotak-kotak ruang berisi kenangan. Tahun pembuatan tertera pada tiap busana yang dipamerkan. Benda pamer dimasukkan ke dalam ruang-ruang yang dikelompokkan berdasarkan 12 inspirasi desain, warna, dan busana. Koleksi tersebut dikelompokkan dalam The Atelier, The Reflection, The White Forest, The Moonless, The Gula Kelapa, The Eastern, The Gleaming Lights The Embroidery, The Birds, The Day Before, dan The Gazing Room.
 
“Saya ingin memperkenalkan bahwa pameran seperti ini dapat menginspirasi banyak orang, banyak hal, dan menjadi referensi untuk belajar bersama,” imbuhnya.
 
The Atelier, merupakan representasi dari sebuah ide mulai digarap. Ruang ini dipenuhi sketsa, foto-foto, tumpukan buku-buku, mood board, dan langkah awal sebuah busana diciptakan.
 
The Reflection, sajian busana koleksi awal perjalanan sang perancang, termasuk di dalamnya foto semasa sekolah, piagam, dan piala ketika memenangkan lomba rancang busana.
 
The White Forest, berisi segala koleksi busana-busana berwarna putih.
 
The Moonless, baju serbahitam menjadi ilham ruang ini.
 
The Gula Kelapa, inspirasi ruang ini datang dari bendera kerajaaan Majapahit (merah putih), dan didedikasikan untuk penampilan kebaya dan batik. Seluruhnya kebaya nyonya/kebaya renda putih yang dipadankan dengan ragam batik berwarna merah.
 
The Eastern, karya-karya dengan napas Tiongkok dan Jepang terasa kental di dua ruang yang disatukan ini. Terhidang karya beraroma orientalisme yang pernah dipergelarkan di Rusia bersama rombongan budaya di bawah naungan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan.
 
The Gleaming Lights, berisi dua hingga tiga baju penuh bling-bling yang disorot dengan lampu dan memperlihatkan efek cahaya berpendar yang rupawan.
 
The Embroidery, baju-baju sulam embroidery kumpulan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan Yayasan Sulam Indonesia (YSI) dan disponsori oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) yang pernah dipamerkan dalam Embroidery Fashion Festival, di Jakarta.
 
The Birds, mengemukakan tiga gaun dengan detail bulu-bulu. Disisipkan pula dua buah karya desainer aksesori Rinaldi A. Yunardi.
 
The Day Before, merupakan replika sebuah ruang belakang panggung seperti tengah mempersiapkan sebuah peragaan. Koleksi busana dengan warna merah dihadirkan di sini.
 
The Gazing Room, selain baju dan wastra koleksi pribadi Didi Budiardjo, tersaji pula kain-kain Nusantara koleksi Museum Tekstil.

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini