Belanda Jadi Donatur Epidemi Kusta di Indonesia

Erika Kurnia, Jurnalis · Senin 26 Januari 2015 16:50 WIB
https: img.okezone.com content 2015 01 26 481 1097321 belanda-jadi-donatur-epidemi-kusta-di-indonesia-5KUGVdhAep.jpg Belanda jadi donatur epidemi kusta (Foto: Dede/Okezone)

KUSTA masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di beberapa negara berkembang di dunia, termasuk Indonesia. Beban penderita dan orang yang pernah mengalami kusta, tidak hanya menjadi perhatian negara, tetapi juga negara asing.

Penyakit kusta, yang sering menimbulkan kecacatan akibat keterlambatan pengobatan, tidak hanya membawa beban fisik. Stigma terhadap kusta juga menjadi beban sosial bagi para penderita, bahkan mereka yang telah dinyatakan sembuh. Di sinilah peran lembaga sosial masyarakat asing seperti Netherlands Leprosy Relief (NLR) muncul.

“Kami berkomitmen dalam memberantas kusta, mencegah kecacatan, dan melawan stigma yang mendiskriminasi penderita kusta dari masyarakat,” tutur Jan van Berkel, Ketua Netherlands Leprosy Relief (NLR) Pusat, saat ditemui di acara Peringatan Hari Kusta Sedunia Ke-62 bersama Kementerian Kesehatan RI.

NLR telah 48 tahun bermitra dengan pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk bersama-sama memberantas epidemi kusta. Mengingat perlunya pendekatan secara menyeluruh (holistik) terhadap banyaknya masalah yang berkaitan dengan penyakit kusta, kemitraan ini menjadi besar manfaatnya.

“Pada awalnya kami biasa mengirim dokter dari Belanda dan melatih dokter Indonesia terutama di bidang penanganan kusta. Kami juga membantu mengadakan penelitian untuk memperbaiki pengobatan, mendukung secara finansial, dan terus mempromosikan pencegahan kusta dan disabilitas,” jelasnya di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (26/1/2015).

Berbagai workshop untuk sosialisasi dan pelatihan untuk penanganan kusta, kelompok kegiatan untuk rehabilitasi sosial dan ekonomi penderita kusta juga digalakan untuk membangun kepercayaan diri penderita, dan mereka yang pernah mengalami kusta dalam melawan stigma.

Berkel juga menyampaikan bahwa, sekira 50.000 masyarakat Belanda menjadi donatur untuk negara-negara berkembang yang menjadi epidemi kusta.

“Perhatian kami sebagai masyarakat Belanda tidak lain karena kesadaran bahwa masih ada negara di dunia ini yang dilanda epidemi kusta dan memerlukan bantuan untuk mengatasi ini bersama-sama,” tutupnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini