Penderita Kusta Masih Sering Alami Diskriminasi

Erika Kurnia, Jurnalis · Senin 26 Januari 2015 22:06 WIB
https: img.okezone.com content 2015 01 26 481 1097507 penderita-kusta-masih-sering-alami-diskriminasi-qXiIgIH5hW.jpg Penderita kusta alami diskriminasi (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

PENDERITA kusta masih kerap mengalami perlakuan diskriminatif. Tak jarang mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hak pribadi maupun hak berasyarakat mereka.

Dr. Sigit Priohutomo, MPH., Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan menceritakan sejumlah kasus diskriminasi akibat stigma masyarakat terhadap penyakit dan penderita kusta.

"Beberapa penderita kusta pernah dikeluarkan dari pekerjaan mereka, bahkan tidak bisa menikah karena ditolak calon mertua. Yang lebih lucu, ada yang ditolak memberikan suara dalam pemilu," ungkapnya dalam temu media di Kantor Kemenkes, Rasuna Said, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Penolakan di tempat umum juga kerap dialami penderita kusta, seperti di tempat ibadah, sarana transportasi publik, serta sekolah. Adanya stigma tersebut, menurut Sigit, membuat penderita kusta sulit diobati. Perasaan malu diketahui masyarakat umum adalah alasannya.

"Dua tahun lalu, saya pernah menemukan tukang sampah di dekat rumah saya punya gejala kusta dengan bercak-bercak putih. Saya curiga itu kusta, dan ternyata benar. Awalnya, dia tidak mau diobati, namun kemudian dia mau," cerita Hariadi.

Penyakit kusta yang disebabkan kuman mycobacterium leprae sebenarnya sangat mudah diobati. Namun, pengetahuan dan stigma membuat penderita berakhir pada kecacatan yang sulit diobati. Meskipun termasuk kategori penyakit menular, namun kusta sangat tidak mudah menular.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini