nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mencicipi Dongkal yang Nyaris Punah

Marieska Harya Virdhani, Jurnalis · Kamis 29 Januari 2015 21:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 01 29 298 1098973 mencicipi-dongkal-yang-nyaris-punah-OlsdKqF0K0.jpg Kue dongkal khas Betawi (Foto:Okezone)

MASYARAKAT Betawi pasti mengenal kue dongkal. Namun di Jawa Barat, panganan tradisional ini dikenal dengan nama awug.

Dongkal adalah sejenis kue tradisional Indonesia yang termasuk ke dalam kelompok jajanan pasar. Namun kini, kue ini sudah sangat jarang ditemui bahkan nyaris punah.

Di Depok, kota yang berada di pinggiran Ibu Kota pun kue ini sudah semakin jarang, padahal mayoritas masyarakatnya juga kebanyakan dari suku Betawi. Dongkal bisa dijumpai di Jalan Raya Cipayung, Jembatan Serong, Kecamatan Cipayung, Depok, atau di sekitar wilayah Sawangan, Depok.

Dongkal adalah panganan terbuat dari beras yang ditumbuk halus hingga menghasilkan tepung. Kemudian, tepung beras yang telah halus diisikan gula aren dan dikukus. Dongkal biasanya disajikan di atas daun pisang dan ditaburi parutan kelapa.

"Awalnya ini terbuat dari singkong, bukan tepung beras. Namun, karena biar semakin praktis, maka orang menggunakan tepung beras. Sudah semakin sulit dan sedikit masyarakat yang buat kue ini," kata penjual kue dongkal, Agus (41), warga Bojong Pondok Terong, Depok, baru-baru ini.

Agus menjelaskan, kue dongkal merupakan khas Betawi. Dongkal sejarahnya, biasa dibuat masyarakat Betawi jika ada hajatan atau selametan membangun rumah.

"Biasanya buat dimakan sehari-hari atau kalau ada resepsi dan kenaikan loteng atau atap rumah. Karena sejalan dengan program ‘Depok One Day No Rice’, jadi PNS (pegawai negeri sipil) banyak yang beli orang kecamatan, kelurahan, asal pakai singkong," tuturnya.

Uniknya kue dongkal ini berbentuk seperti tumpeng dan memiliki rasa lebih gurih dan lebih pulen dari kue putu. "Tepung beras dibungkus menggunakan kain dikukus dicampur dengan sagu, terus masukkan adonan ke dalam kukusan dan selang-seling dengan gula aren dan dikukus lagi, pakai garam sedikit. Lebih enak kalau dimakan panas-panas," tutupnya.(ndr)

(ftr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini