nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Epilepsi Bukan Penyakit Kejiwaan Apalagi Penyakit Menular

Erika Kurnia, Jurnalis · Kamis 29 Januari 2015 16:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 01 29 481 1098944 epilepsi-bukan-penyakit-kejiwaan-apalagi-penyakit-menular-KSIF9lIIgA.JPG Epilepsi bukan penyakit kejiawaan apalagi menular (Foto: Erika/Okezone)

ORANG yang mengalami gejala epilepsi masih belum jauh dari stigma negatif. Banyak orang yang menyangka epilepsi adalah penyakit kejiwaan bahkan penyakit menular, padahal epilepsi adalah penyakit yang disebabkan gangguan saraf pusat di otak.

“Pernah ada kejadian di Ternate, karena satu murid kejang-kejang karena epilepsi, satu sekolah jadi diliburkan dan murid yang pegang dia disuruh cuci tangan karena takut menular. Jadi yang sering menjadi masalah bukan epilepsinya, tapi masalah psikososialnya,” tutur Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia, dr Irawati Hawari, SpS.

Epilepsi merupakan suatu penyakit neurologi menahun yang dapat mengenai siapa saja, tanpa mengenal usia, gender, ras, sosial, dan ekonomi. Serangan epilepsi tidak hanya berupa kejang-kejang, bisa juga berupa kelemahan saraf dan kekakuan, yang terkadang terlihat seperti gejala gangguan kejiwaan.

Dalam seminar berjudul Unmask Epilepsy di Double Tree Hotel, Cikini, Jakarta, Kamis (29/1/2015), ia juga menyampaikan kondisi epilepsi sejauh ini. Rata-rata prevalensi epilepsi aktif adalah 8,1 per 1000 penduduk dan angka insidensi mencapai 50-70 kasus per 100 ribu penduduk.

Sementara di Indonesia, dari 237,6 juta penduduk, diperkirakan orang dengan epilepsi (ODE) sekitar 1,1-8,8 juta. Prevalensi pada bayi dan anak-anak cukup tinggi, menurun pada usia dewasa muda dan pertengahan, kemudian meningkat lagi pada kelompok usia lanjut.

“Sekira 40-50 juta penduduk dunia menderita epilepsi dan 85 persennya terjadi di daerah berkembang, termasuk Indonesia. Empat penyebab utama terbanyak penyakit epilepsi adalah trauma, infeksi otak, gangguan perinatal dan gangguan cerebrovaskular," kata neurolog dr Fitri Octaviana Sumantri, SpS(K), M.Pd.Ked, dari RS Cipto Mangunkusumo, dalam kesempatan yang sama.

Menurut dr Fitri, dari sejumlah studi, empat besar penyebab epilepsi antara lain, trauma, infeksi, trauma parinatal, dan penyakit cerebrovaskular, yaitu gangguan aliran darah ke otak yang menyebabkan gangguan saraf. Sementara kasus epilepsi karena faktor genetik hanya sedikit. “Jadi epilepsi bukan penyakit menular,” katanya.

Otak ODE yang diperiksa dengan scan MRI, akan terlihat gangguan struktural berbentuk lesi karena ada bagian otaknya yang mengering. Operasi bisa dilakukan, namun tidak akan benar-benar menghilangkan gejalanya.

“Yang penting dari pengobatan adalah untuk bisa mengontrol kekambuhan gejalanya. Oleh karena itu, ODE harus terus diberi motivasi agar rutin minum obat bila ingin hidup normal dan tidak dijauhi,” pesannya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini