Pencernaan Sehat, Kunci Bayi Sehat

Erika Kurnia, Jurnalis · Senin 16 Maret 2015 19:04 WIB
https: img.okezone.com content 2015 03 16 481 1119391 pencernaan-sehat-kunci-bayi-sehat-hDbncrmKnx.jpg Pencernaan sehat kunci bayi sehat (Foto: Developachild)

BAYI dan anak usia beberapa tahun pertama rentan mengalami masalah pencernaan. Belum sempurnanya saluran pencernaan mungkin wajar menyebabkan gangguan pencernaan. Namun, orangtua jangan selalu mengabaikan masalah tersebut.

Tidak sempurnanya saluran pencernaan dapat mempengaruhi proses pemecahan makanan dan penyerapan nutrisi. Bila sering diabaikan, masalah ini bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak di masa-masa emasnya.

“Setiap orangtua diharapkan dapat lebih memahami gejala-gejala dari gangguan sistem pencernaan anak tersebut, sehingga dapat segera diatasi dan tidak mengganggu kemampuan intelektual dan kognitif anak di kemudian hari,” kata Prof Dr M Juffrie SpA(K), PhD., salah satu anggota Happy Tummy Council saat menyampaikan seminarnya di Hotel Mandarin, Jakarta, Senin (16/3/2015).

Selain itu, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, penyakit karena gangguan saluran pencernaan masih menjadi penyebab terbesar kematian anak usia 0 sampai 59 bulan di Indonesia, dengan total mencapai 35,9 persen.

Selama menunggu sistem pencernaan anak berkembang sempurna, orangtua harus memastikan makanan dan proses menerima makanan diterima baik oleh anak. Sistem pencernaan menopang 80 persen sistem kekebalan tubuh dari mikroorganisme yang hidup (mikrobioma) di dalamnya.

Keseimbangan mikrobioma ditentukan oleh asupan makanan dan faktor lain seperti stres. Karenanya penting untuk memastikan kesehatan saluran cerna agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, tidak mudah sakit, dan menjadi lebih aktif.

“Sejak lahir bayi dianugrahi ASI oleh ibunya. Dalam ASI ada probiotik Laktobasilus reuteri, yang berperan dalam memastikan kesehatan dan kenyamanan saluran cerna bayi. Ini dapat diperoleh dengan pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan dan dapat diteruskan hingga dua tahun,” tambah Dr dr Saptawati Bardosono, MSc., dalam kesempatan yang sama.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini